Kepo Sejarah Indonesia
light_mode
Kepo Trending
Beranda » Utama » Kerja & Karir » Lapangan Kerja Indonesia: Tantangan di Usia 81 Tahun RI

Lapangan Kerja Indonesia: Tantangan di Usia 81 Tahun RI

  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 8
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sobat Kepo, memasuki usia 81 tahun kemerdekaan, Indonesia tidak hanya menghadapi pertanyaan tentang seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang seberapa banyak pekerjaan yang mampu diciptakan dan seberapa baik kualitas pekerjaan tersebut.

Pemerintah menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh 6 persen pada 2027. Bersamaan dengan itu, pemerintah dan DPR menetapkan sasaran tingkat pengangguran terbuka pada kisaran 4,30–4,87 persen serta menargetkan porsi pekerja formal meningkat menjadi 40,81 persen.

Target tersebut menunjukkan bahwa penciptaan lapangan kerja menjadi bagian penting dari agenda ekonomi nasional.

Namun, menciptakan pekerjaan tidak sesederhana menurunkan angka pengangguran.

Indonesia juga menghadapi persoalan kualitas pekerjaan, besarnya sektor informal, kesenjangan kesempatan kerja antardaerah, serta kebutuhan meningkatkan produktivitas pekerja.

Karena itu, tantangan ketenagakerjaan Indonesia ke depan bukan hanya menciptakan lebih banyak pekerjaan, tetapi menciptakan pekerjaan yang lebih produktif, lebih stabil, dan mampu meningkatkan kesejahteraan pekerja.

Data terbaru: 7,24 juta orang masih menganggur

Data BPS berdasarkan Sakernas Februari 2026 menunjukkan jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 154,91 juta orang.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 147,67 juta orang bekerja, sedangkan tingkat pengangguran terbuka mencapai 4,68 persen. Secara absolut, terdapat sekitar 7,24 juta orang yang masih menganggur.

Jumlah penduduk bekerja memang meningkat sekitar 1,896 juta orang dibandingkan Februari 2025.

Pada periode yang sama, TPT turun 0,08 poin persentase dibandingkan Februari 2025.

Sekilas, angka tersebut menunjukkan perkembangan positif.

Tetapi angka pengangguran hanya menggambarkan satu bagian dari pasar kerja.

Seseorang yang bekerja belum tentu memiliki pekerjaan dengan pendapatan yang cukup, jam kerja yang memadai, perlindungan sosial, atau prospek peningkatan karier.

Di sinilah persoalan ketenagakerjaan menjadi lebih kompleks.

Pekerjaan ada, tetapi kualitasnya juga harus diperhatikan

Pertumbuhan jumlah orang yang bekerja merupakan indikator penting.

Namun, kualitas pekerjaan menentukan seberapa besar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan rumah tangga.

BPS melalui publikasi ketenagakerjaan Februari 2026 menyediakan data mengenai karakteristik pekerja berdasarkan pendidikan, umur, wilayah, lapangan pekerjaan, jam kerja, jenis pekerjaan, serta rata-rata upah atau pendapatan.

Artinya, pembahasan mengenai lapangan kerja tidak cukup berhenti pada pertanyaan:

“Berapa orang yang mendapatkan pekerjaan?”

Pertanyaan berikutnya adalah:

“Pekerjaan seperti apa yang mereka dapatkan?”

Pekerjaan dengan produktivitas rendah dan pendapatan yang tidak memadai akan menghasilkan dampak ekonomi yang berbeda dibandingkan pekerjaan formal dengan produktivitas dan pendapatan lebih tinggi.

Sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar

Salah satu gambaran penting dari data Februari 2026 adalah masih besarnya peran sektor pertanian.

BPS mencatat sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menyerap sekitar 42,49 juta pekerja, atau 28,78 persen dari penduduk yang bekerja pada Februari 2026.

Angka tersebut menunjukkan bahwa transformasi ekonomi Indonesia belum berarti perpindahan seluruh tenaga kerja ke sektor industri dan jasa.

Pertanian masih menjadi sumber pekerjaan bagi puluhan juta orang.

Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan peluang dan tantangan.

Peluangnya adalah peningkatan produktivitas pertanian dapat memberikan dampak besar terhadap pendapatan masyarakat.

Tantangannya adalah memastikan pekerjaan di sektor tersebut mampu menghasilkan pendapatan yang semakin baik dan tidak membuat pekerja terjebak dalam produktivitas rendah.

Mengapa pekerjaan formal penting?

Pemerintah dalam RAPBN 2027 menargetkan proporsi pekerja formal meningkat menjadi 40,81 persen.

Target tersebut penting karena pekerjaan formal pada umumnya memiliki hubungan kerja yang lebih jelas dan akses yang lebih kuat terhadap berbagai bentuk perlindungan ketenagakerjaan dibandingkan pekerjaan informal.

Namun, peningkatan formalitas tidak berarti sektor informal harus dihilangkan.

Sektor informal tetap menjadi bagian penting dari ekonomi Indonesia.

Yang menjadi tantangan adalah bagaimana pekerja dan pelaku usaha informal dapat meningkatkan produktivitas, pendapatan, serta secara bertahap memperoleh akses terhadap perlindungan dan pembiayaan yang lebih baik.

Dengan kata lain, formalitas seharusnya menjadi salah satu jalan menuju pekerjaan yang lebih berkualitas, bukan sekadar perubahan status administratif.

Mengapa menciptakan lapangan kerja tidak mudah?

Ada beberapa alasan mengapa penciptaan lapangan kerja menjadi persoalan yang kompleks.

1. Pertumbuhan ekonomi belum otomatis menciptakan pekerjaan dalam jumlah besar

Pertumbuhan ekonomi dapat terjadi karena peningkatan produktivitas, investasi, ekspor, konsumsi, atau perubahan harga komoditas.

Namun, tidak semua pertumbuhan menghasilkan tambahan pekerja dalam jumlah yang sama.

Sebuah industri dapat meningkatkan produksi melalui investasi teknologi dan efisiensi tanpa meningkatkan jumlah pekerjanya secara proporsional.

Karena itu, pemerintah perlu memperhatikan sektor-sektor yang memiliki kemampuan menciptakan pekerjaan sekaligus meningkatkan produktivitas.

2. Investasi harus menghasilkan aktivitas ekonomi nyata

Investasi merupakan salah satu sumber penting penciptaan lapangan kerja.

Dalam pembahasan arah kebijakan RAPBN 2027, pemerintah dan DPR menempatkan penguatan konsumsi rumah tangga, investasi, iklim usaha, industri nasional, serta penciptaan lapangan kerja sebagai bagian dari kebijakan untuk mendorong pertumbuhan.

Namun, nilai investasi saja tidak cukup untuk mengukur dampaknya terhadap masyarakat.

Yang perlu dilihat adalah apakah investasi tersebut:

  • membuka fasilitas produksi baru;
  • menciptakan pekerjaan;
  • meningkatkan kapasitas industri;
  • melibatkan perusahaan lokal;
  • meningkatkan produktivitas;
  • atau menciptakan rantai ekonomi baru.

Semakin besar keterkaitan investasi dengan kegiatan ekonomi lokal, semakin besar peluang manfaatnya menyebar.

3. Keterampilan pekerja harus sesuai dengan kebutuhan pasar

Pasar kerja terus berubah.

Perusahaan membutuhkan pekerja dengan kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan industrinya.

Di sisi lain, lulusan pendidikan tidak selalu memiliki keterampilan yang langsung sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Kesenjangan tersebut dapat membuat perusahaan kesulitan menemukan tenaga kerja yang sesuai, sementara pencari kerja tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Karena itu, kebijakan ketenagakerjaan tidak cukup hanya berfokus pada jumlah lulusan atau jumlah peserta pelatihan.

Yang lebih penting adalah apakah keterampilan yang diperoleh benar-benar meningkatkan peluang seseorang mendapatkan pekerjaan dan meningkatkan produktivitasnya.

Upah juga menjadi bagian dari persoalan

BPS mencatat rata-rata upah buruh pada Februari 2026 sebesar sekitar Rp3,29 juta per bulan.

Angka rata-rata nasional tentu tidak menggambarkan kondisi setiap daerah dan setiap jenis pekerjaan.

Perbedaan sektor, wilayah, pendidikan, pengalaman, dan jenis pekerjaan membuat pendapatan pekerja sangat beragam.

Karena itu, peningkatan kesempatan kerja perlu berjalan bersama dengan peningkatan produktivitas.

Jika produktivitas pekerja meningkat, terdapat ruang yang lebih besar bagi peningkatan pendapatan.

Sebaliknya, jika penciptaan pekerjaan hanya terjadi pada kegiatan dengan produktivitas rendah, jumlah pekerjaan dapat bertambah tetapi kesejahteraan pekerja belum tentu meningkat secara signifikan.

Tantangan terbesar bukan sekadar angka pengangguran

Angka TPT 4,68 persen menunjukkan bahwa sebagian besar angkatan kerja Indonesia sudah bekerja.

Tetapi angka tersebut tidak berarti persoalan ketenagakerjaan selesai.

Masih ada persoalan lain seperti:

  • pekerja dengan jam kerja yang tidak mencukupi;
  • pendapatan rendah;
  • pekerjaan informal;
  • ketidaksesuaian keterampilan;
  • kesenjangan kesempatan kerja antardaerah;
  • dan produktivitas yang belum merata.

BPS sendiri menerbitkan indikator pasar tenaga kerja yang lebih luas untuk memahami kondisi ketenagakerjaan, termasuk indikator yang berkaitan dengan partisipasi kerja, pengangguran, jam kerja, serta karakteristik pekerjaan.

Karena itu, angka pengangguran sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan pasar kerja.

Pemerintah memasang target pengangguran 4,30–4,87 persen pada 2027

Dalam pembahasan awal RAPBN 2027, pemerintah dan Komisi XI DPR menyepakati sasaran tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,30–4,87 persen.

Target tersebut ditempatkan bersama sasaran pembangunan lainnya, termasuk tingkat kemiskinan 6,0–6,5 persen dan rasio Gini 0,362–0,367.

Dokumen pemutakhiran KEM-PPKF 2027 kemudian menegaskan bahwa penciptaan lapangan kerja harus berjalan seiring dengan penurunan tingkat pengangguran serta peningkatan kualitas pertumbuhan ekonomi.

Target tersebut berarti pemerintah harus menjaga agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terjadi pada sektor-sektor yang memiliki kontribusi terhadap PDB, tetapi juga mampu menciptakan kesempatan kerja.

Apa artinya bagi pencari kerja?

Bagi Sobat Kepo yang sedang mencari pekerjaan, perkembangan ekonomi nasional tetap penting.

Namun, menunggu pertumbuhan ekonomi menciptakan pekerjaan baru bukan satu-satunya strategi.

Pencari kerja perlu memperhatikan sektor yang berkembang, kebutuhan perusahaan, serta keterampilan yang benar-benar dibutuhkan pasar.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Pertama, jangan hanya mencari berdasarkan jabatan.

Perhatikan keterampilan yang diminta perusahaan.

Kedua, perkuat kemampuan yang dapat digunakan lintas industri.

Kemampuan komunikasi, analisis, administrasi, penjualan, pengelolaan data, pelayanan pelanggan, dan manajemen operasional dapat dibutuhkan di banyak sektor.

Ketiga, pahami industri yang dituju.

Peluang kerja akan berbeda antara manufaktur, perdagangan, konstruksi, kesehatan, pendidikan, pariwisata, pertanian, dan jasa.

Keempat, jangan mengabaikan pekerjaan entry-level.

Pengalaman pertama dapat menjadi modal untuk meningkatkan posisi dan pendapatan.

Kelima, terus ukur perkembangan karier.

Pekerjaan pertama bukan harus menjadi pekerjaan terakhir.

Yang penting adalah apakah pekerjaan tersebut memberi pengalaman, keterampilan, jaringan, dan peluang untuk berkembang.

Apa artinya bagi pemerintah?

Bagi pemerintah, tantangan penciptaan lapangan kerja memiliki dimensi yang lebih luas.

Pertumbuhan ekonomi perlu diarahkan ke sektor yang mampu memberikan efek berganda terhadap tenaga kerja.

Investasi perlu dikaitkan dengan penciptaan kapasitas produksi dan pekerjaan.

Pendidikan dan pelatihan perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

UMKM perlu mendapatkan kesempatan untuk berkembang sehingga mampu menciptakan pekerjaan baru.

Sementara sektor informal perlu memperoleh jalan untuk meningkatkan produktivitas dan perlindungan pekerja.

Dengan pendekatan tersebut, kebijakan ketenagakerjaan tidak hanya bertujuan mengurangi pengangguran, tetapi juga meningkatkan kualitas pasar kerja.

Tantangan Indonesia setelah 81 tahun merdeka

Kemerdekaan dalam konteks ekonomi tidak hanya berarti memiliki pertumbuhan PDB yang tinggi.

Bagi masyarakat, kemerdekaan ekonomi juga berkaitan dengan kemampuan mendapatkan pekerjaan yang layak, memperoleh penghasilan yang memadai, meningkatkan keterampilan, dan memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupan.

Indonesia sudah memiliki pasar tenaga kerja yang sangat besar.

Pada Februari 2026 saja, angkatan kerja mencapai 154,91 juta orang.

Besarnya jumlah tersebut merupakan kekuatan sekaligus tantangan.

Jika sebagian besar tenaga kerja memiliki produktivitas tinggi, Indonesia memiliki modal manusia yang sangat besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sebaliknya, jika banyak pekerja terjebak dalam pekerjaan dengan produktivitas dan pendapatan rendah, pertumbuhan ekonomi akan lebih sulit diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan.

Kesimpulan

Pada usia 81 tahun Indonesia merdeka, persoalan lapangan kerja tidak bisa dilihat hanya dari angka pengangguran.

Data BPS menunjukkan kondisi pasar kerja terus bergerak positif. Pada Februari 2026, jumlah penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang dan TPT turun menjadi 4,68 persen. Namun, sekitar 7,24 juta orang masih menganggur dan tantangan kualitas pekerjaan tetap perlu diperhatikan.

Pemerintah kemudian menetapkan target TPT 4,30–4,87 persen pada 2027 dan menargetkan peningkatan proporsi pekerja formal menjadi 40,81 persen.

Target tersebut penting, tetapi ukuran keberhasilannya tidak berhenti pada angka.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah semakin banyak masyarakat mendapatkan pekerjaan yang produktif, memiliki penghasilan yang lebih baik, dan mempunyai kesempatan untuk berkembang?

Jika jawabannya semakin positif, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya terlihat dalam laporan statistik.

Pertumbuhan tersebut mulai terasa dalam kehidupan masyarakat.

FAQ

Berapa tingkat pengangguran Indonesia terbaru?
Data nasional terbaru yang dirilis BPS berdasarkan Sakernas Februari 2026 menunjukkan TPT sebesar 4,68 persen, dengan sekitar 7,24 juta orang menganggur.

Berapa target tingkat pengangguran Indonesia pada 2027?
Pemerintah dan DPR menetapkan sasaran TPT 2027 pada kisaran 4,30–4,87 persen.

Mengapa lapangan kerja menjadi tantangan bagi Indonesia?
Karena penciptaan pekerjaan tidak hanya berkaitan dengan jumlah orang yang bekerja, tetapi juga kualitas pekerjaan, produktivitas, pendapatan, keterampilan, dan formalitas pekerjaan.

Sektor apa yang paling banyak menyerap tenaga kerja?
Pada Februari 2026, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi lapangan usaha dengan jumlah pekerja terbesar, yaitu sekitar 42,49 juta orang atau 28,78 persen dari penduduk bekerja.

Berapa rata-rata upah buruh di Indonesia?
BPS mencatat rata-rata upah buruh pada Februari 2026 sebesar sekitar Rp3,29 juta per bulan.

Apakah data ketenagakerjaan Agustus 2026 sudah tersedia?
Belum. Per 17 Agustus 2026, rilis nasional terbaru yang tersedia dari BPS adalah Sakernas Februari 2026. Karena itu, artikel ini tidak menggunakan angka Agustus 2026 yang belum dirilis.

Sumber utama

  1. BPS — Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia, Februari 2026
    Ini merupakan sumber utama untuk data:
    • TPT Februari 2026: 4,68 persen
    • Penduduk bekerja: 147,67 juta orang
    • Angkatan kerja: 154,91 juta orang
    • Pengangguran: sekitar 7,24 juta orang
    • Pekerja sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan: 42,49 juta orang
    • Rata-rata upah buruh: Rp3,29 juta per bulan.
    BPS — Tingkat Pengangguran Terbuka Februari 2026
  2. BPS — Publikasi Keadaan Pekerja di Indonesia Februari 2026
    Digunakan untuk memperkuat pembahasan mengenai karakteristik pekerja, termasuk pendidikan, lapangan pekerjaan, jam kerja, jenis pekerjaan, serta pendapatan pekerja. BPS — Keadaan Pekerja di Indonesia Februari 2026
  3. BPS — Tabel Statistik Tenaga Kerja
    Menjadi rujukan tambahan untuk indikator pasar tenaga kerja, pengangguran, angkatan kerja, dan kondisi ketenagakerjaan Indonesia. BPS — Statistik Tenaga Kerja
  4. Kementerian Keuangan — KEM-PPKF 2027
    Digunakan untuk bagian mengenai sasaran ketenagakerjaan dalam RAPBN 2027, termasuk target pengangguran dan peningkatan kualitas/formalitas pekerjaan. Kementerian Keuangan — KEM-PPKF 2027
  5. Kementerian Keuangan — Pembahasan Awal RAPBN 2027
    Digunakan untuk konteks target pembangunan 2027, termasuk sasaran tingkat pengangguran terbuka. Kemenkeu — Pembahasan Awal RAPBN 2027

Penulis

Redaksi Loekepo merupakan tim editorial yang menyajikan berita, informasi, edukasi, dan liputan terpercaya dari berbagai kategori, mulai dari nasional, internasional, teknologi, pendidikan, gaya hidup, hingga topik khusus. Setiap artikel disusun berdasarkan sumber yang kredibel dan melalui proses penyuntingan sebelum dipublikasikan.

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less