Harga BBM 1 September 2026 Naik, Apa Dampaknya bagi Pengeluaran Masyarakat dan UMKM?
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 35
- comment 0 komentar
- print Cetak

Harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mengalami kenaikan mulai 1 September 2026.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LOEKEPO.COM — Harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) Pertamina berubah mulai 1 September 2026. Namun, kenaikan tidak berlaku untuk seluruh jenis BBM.
PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, sementara harga Pertalite, Biosolar, Pertamax, dan Pertamax Green 95 tetap. Penyesuaian ini berlaku mulai Selasa, 1 September 2026.
Bagi masyarakat, perubahan tersebut bukan hanya soal bertambahnya biaya ketika mengisi tangki kendaraan. Harga BBM juga berkaitan dengan biaya transportasi, distribusi barang, operasional usaha, hingga pengeluaran rumah tangga.
Pertanyaannya, seberapa besar kenaikan BBM kali ini akan terasa dalam kehidupan sehari-hari?
Daftar harga BBM Pertamina 1 September 2026
Untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali, harga yang berlaku mulai 1 September 2026 adalah sebagai berikut:
| Jenis BBM | Harga Agustus | Harga 1 September | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Pertalite | Rp10.000/liter | Rp10.000/liter | Tetap |
| Biosolar | Rp6.800/liter | Rp6.800/liter | Tetap |
| Pertamax | Rp15.950/liter | Rp15.950/liter | Tetap |
| Pertamax Green 95 | Rp16.600/liter | Rp16.600/liter | Tetap |
| Pertamax Turbo | Rp18.300/liter | Rp19.600/liter | +Rp1.300 |
| Dexlite | Rp19.700/liter | Rp23.700/liter | +Rp4.000 |
| Pertamina Dex | Rp21.150/liter | Rp25.200/liter | +Rp4.050 |
Data harga tersebut dilaporkan ANTARA berdasarkan penyesuaian harga Pertamina Patra Niaga. Harga dapat berbeda menurut wilayah sehingga konsumen tetap perlu memperhatikan informasi harga di SPBU setempat.
Kenaikan terbesar terjadi pada BBM diesel
Jika dilihat dari nominal kenaikan, Pertamina Dex naik Rp4.050 per liter, dari Rp21.150 menjadi Rp25.200.
Sementara Dexlite naik Rp4.000 per liter, dari Rp19.700 menjadi Rp23.700.
Secara persentase, kenaikan Dexlite sekitar 20,3 persen, sedangkan Pertamina Dex sekitar 19,1 persen. Pertamax Turbo naik sekitar 7,1 persen, dari Rp18.300 menjadi Rp19.600 per liter.
Kenaikan tersebut membuat perubahan harga paling terasa bagi pengguna kendaraan diesel yang rutin mengonsumsi BBM nonsubsidi.
Mengapa harga BBM naik?
Pertamina Patra Niaga menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengacu pada formula yang ditetapkan pemerintah.
Beberapa faktor yang dipertimbangkan antara lain harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, pajak, serta faktor relevan lainnya, termasuk daya beli masyarakat pengguna BBM.
Artinya, perubahan harga BBM nonsubsidi tidak berdiri sendiri. Pergerakan harga energi global dan kondisi nilai tukar dapat ikut memengaruhi harga yang harus dibayar konsumen.
Apakah harga BBM naik berarti semua harga barang akan langsung naik?
Tidak otomatis.
Kenaikan harga BBM dapat menambah biaya transportasi dan distribusi, tetapi dampaknya terhadap harga barang berbeda-beda.
Barang yang harus menempuh perjalanan jauh dari produsen menuju distributor dan kemudian ke konsumen berpotensi memiliki tambahan biaya transportasi yang lebih besar.
Sebaliknya, usaha yang lokasinya dekat dengan pemasok atau memiliki biaya transportasi relatif kecil mungkin merasakan dampak yang lebih terbatas.
Selain BBM, harga barang juga dipengaruhi oleh bahan baku, tenaga kerja, sewa tempat, listrik, biaya logistik, permintaan konsumen, serta kondisi persaingan.
Karena itu, tidak tepat jika setiap kenaikan BBM langsung dianggap akan membuat seluruh harga barang naik dengan persentase yang sama.
Dampaknya bagi pengeluaran rumah tangga
Bagi pengguna Pertalite dan Biosolar, kenaikan 1 September tidak langsung menambah biaya BBM karena kedua produk tersebut tetap pada harga sebelumnya.
Namun, masyarakat yang menggunakan Pertamax Turbo, Dexlite, atau Pertamina Dex akan menghadapi biaya pengisian yang lebih tinggi.
Sebagai contoh, pengguna Dexlite yang mengisi 40 liter sebelumnya membayar sekitar Rp788.000. Dengan harga baru, pengisian dalam jumlah yang sama menjadi sekitar Rp948.000.
Artinya, terdapat selisih sekitar Rp160.000 untuk setiap pengisian 40 liter.
Perhitungan tersebut belum berarti biaya bulanan pengguna otomatis bertambah Rp160.000 karena frekuensi pengisian setiap orang berbeda.
Jika kendaraan digunakan setiap hari untuk bekerja atau menjalankan usaha, frekuensi pengisian menjadi faktor penting yang menentukan dampak sebenarnya terhadap pengeluaran.
Bagaimana dampaknya bagi UMKM?
Bagi UMKM, BBM merupakan salah satu komponen biaya yang dapat muncul secara langsung maupun tidak langsung.
Contohnya adalah:
- biaya kendaraan untuk membeli bahan baku;
- pengiriman produk kepada pelanggan;
- transportasi karyawan;
- distribusi makanan;
- kendaraan operasional;
- biaya pemasok yang kemudian tercermin dalam harga bahan baku.
Namun, kenaikan BBM tidak berarti UMKM harus langsung menaikkan harga jual.
Pemilik usaha sebaiknya menghitung terlebih dahulu berapa rupiah kenaikan biaya operasional terhadap setiap produk yang dijual.
Misalnya, tambahan biaya transportasi usaha Rp100.000 per bulan tentu memiliki dampak berbeda bagi usaha yang menjual 100 produk dibandingkan usaha yang menjual 1.000 produk.
Karena itu, keputusan menaikkan harga sebaiknya didasarkan pada perhitungan biaya, bukan semata-mata karena harga BBM berubah.
Mengapa kenaikan BBM perlu diperhatikan UMKM?
Dampak terbesar bagi sebagian UMKM justru bisa datang melalui rantai pasok.
Sebuah warung makan, misalnya, tidak selalu menggunakan kendaraan diesel sendiri. Tetapi bahan makanan yang dibelinya dapat mengalami beberapa tahap transportasi sebelum sampai ke pasar atau pemasok.
Jika biaya distribusi meningkat, pemasok dapat melakukan penyesuaian harga.
Di sinilah pemilik usaha perlu membedakan antara:
kenaikan biaya langsung dan kenaikan biaya tidak langsung.
Perbedaan tersebut penting agar UMKM tidak salah mengambil keputusan harga.
Dampaknya terhadap inflasi
BBM merupakan bagian dari kelompok administered prices, yaitu kelompok harga yang perkembangannya antara lain dipengaruhi kebijakan pemerintah.
Bank Indonesia mencatat bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi sebelumnya ikut memengaruhi inflasi kelompok administered prices. Dalam laporan kebijakan moneter Agustus 2026, inflasi IHK Juli tercatat 2,88 persen secara tahunan, sementara inflasi administered prices mencapai 3,58 persen secara tahunan.
Namun, kenaikan tiga jenis BBM nonsubsidi pada September tidak berarti inflasi keseluruhan akan naik dalam besaran yang sama.
Besarnya dampak bergantung pada bobot komoditas dalam konsumsi masyarakat serta efek lanjutan terhadap transportasi dan harga barang lainnya.
Bank Indonesia sendiri masih menargetkan inflasi 2026 dan 2027 berada dalam kisaran 2,5 persen ± 1 persen.
Apa yang sebaiknya dilakukan masyarakat?
Kenaikan harga BBM tidak harus direspons dengan kepanikan.
Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan.
1. Hitung konsumsi BBM sebenarnya
Jangan hanya melihat harga per liter. Hitung berapa liter yang digunakan dalam satu minggu atau satu bulan.
Dengan begitu, kenaikan biaya dapat diketahui secara lebih realistis.
2. Bedakan kebutuhan dan kebiasaan
Jika kendaraan digunakan untuk bekerja atau usaha, BBM merupakan kebutuhan operasional.
Namun, perjalanan yang tidak penting dapat dievaluasi untuk mengurangi pengeluaran.
3. Periksa tekanan ban dan kondisi kendaraan
Kondisi kendaraan yang baik dapat membantu menjaga efisiensi penggunaan bahan bakar.
4. Jangan mengganti BBM hanya karena harga
Gunakan BBM sesuai spesifikasi kendaraan. Pertamina juga mengimbau konsumen menggunakan produk yang sesuai dengan spesifikasi kendaraan masing-masing.
5. Bagi pelaku UMKM, hitung ulang HPP
Jika biaya transportasi atau bahan baku meningkat, masukkan perubahan tersebut ke dalam perhitungan harga pokok penjualan (HPP).
Jangan menentukan harga baru hanya berdasarkan perkiraan.
Kesimpulan
Kenaikan harga BBM pada 1 September 2026 tidak berlaku untuk seluruh jenis BBM Pertamina.
Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.600 per liter, Dexlite menjadi Rp23.700 per liter, dan Pertamina Dex menjadi Rp25.200 per liter. Sementara Pertalite, Biosolar, Pertamax, dan Pertamax Green 95 tetap pada harga sebelumnya untuk wilayah yang disebutkan.
Dampaknya bagi masyarakat akan berbeda-beda. Pengguna BBM yang mengalami kenaikan akan menghadapi tambahan biaya langsung, sedangkan masyarakat lainnya dapat merasakan dampak tidak langsung melalui biaya transportasi dan distribusi.
Bagi UMKM, perubahan harga BBM menjadi alasan untuk kembali memeriksa biaya operasional dan HPP, tetapi tidak otomatis berarti harga jual harus langsung dinaikkan.
Pada akhirnya, yang perlu diperhatikan bukan hanya harga BBM per liter, tetapi bagaimana perubahan tersebut masuk ke dalam biaya hidup dan biaya menjalankan usaha sehari-hari.
FAQ
Apakah semua harga BBM Pertamina naik pada 1 September 2026?
Tidak. Yang mengalami kenaikan adalah Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Pertalite, Biosolar, Pertamax, dan Pertamax Green 95 tidak mengalami perubahan untuk wilayah yang disebutkan.
Berapa harga Dexlite mulai 1 September 2026?
Harga Dexlite menjadi Rp23.700 per liter untuk wilayah yang tercantum dalam daftar tersebut.
Berapa kenaikan Pertamina Dex?
Pertamina Dex naik dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter, atau bertambah Rp4.050 per liter.
Apakah kenaikan BBM pasti membuat harga makanan naik?
Tidak otomatis. Harga makanan juga dipengaruhi bahan baku, tenaga kerja, listrik, sewa, distribusi, permintaan, dan faktor lainnya.
Apa yang harus dilakukan UMKM setelah harga BBM naik?
UMKM sebaiknya menghitung kembali biaya operasional dan HPP, kemudian melihat apakah perubahan biaya tersebut cukup besar untuk memerlukan penyesuaian harga jual.
Sumber: PT Pertamina Patra Niaga melalui keterangan yang dikonfirmasi ANTARA; ANTARA News; Bank Indonesia.
Penulis Redaksi Loekepo
Redaksi Loekepo merupakan tim editorial yang menyajikan berita, informasi, edukasi, dan liputan terpercaya dari berbagai kategori, mulai dari nasional, internasional, teknologi, pendidikan, gaya hidup, hingga topik khusus. Setiap artikel disusun berdasarkan sumber yang kredibel dan melalui proses penyuntingan sebelum dipublikasikan.
