Kepo Sejarah Indonesia
light_mode
Kepo Trending
Beranda » Spesial » Kemerdekaan RI » Sejarah Kemerdekaan » Pertempuran Surabaya 10 November 1945: Kronologi, Penyebab, Tokoh, dan Dampaknya

Pertempuran Surabaya 10 November 1945: Kronologi, Penyebab, Tokoh, dan Dampaknya

  • calendar_month 4 jam yang lalu
  • visibility 13
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ultimatum Sekutu dan Pecahnya Pertempuran 10 November 1945

Kematian Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby pada 30 Oktober 1945 membuat hubungan antara pasukan Sekutu dan pejuang Indonesia semakin tegang. Pimpinan Sekutu kemudian digantikan oleh Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh yang mengambil sikap lebih keras terhadap rakyat Surabaya.

Pemerintah Inggris memutuskan untuk mengirim tambahan pasukan lengkap dengan tank, artileri, kapal perang, dan pesawat tempur ke Surabaya.

Situasi kota pun berubah menjadi sangat mencekam.


Ultimatum Sekutu

Pada 9 November 1945, Mayor Jenderal Mansergh mengeluarkan sebuah ultimatum kepada seluruh pejuang Indonesia di Surabaya.

Isi pokok ultimatum tersebut antara lain:

  • Seluruh pejuang Indonesia diwajibkan menyerahkan senjata.
  • Seluruh pimpinan laskar harus melapor kepada Sekutu.
  • Siapa pun yang tetap mengangkat senjata akan dianggap sebagai musuh.

Ultimatum itu juga memberi batas waktu hingga pukul 06.00 pagi tanggal 10 November 1945.

Apabila tidak dipatuhi, Sekutu mengancam akan melakukan serangan besar-besaran.


Penolakan Rakyat Surabaya

Ultimatum tersebut langsung ditolak oleh pemerintah daerah, para pemuda, laskar perjuangan, dan rakyat Surabaya.

Bagi mereka, menyerahkan senjata berarti mengakui kembalinya penjajahan Belanda.

Padahal kemerdekaan Indonesia telah diproklamasikan hampir tiga bulan sebelumnya.

Semangat mempertahankan kemerdekaan jauh lebih besar dibanding rasa takut menghadapi kekuatan militer Sekutu.


Bung Tomo Membangkitkan Semangat Perlawanan

Di tengah situasi yang semakin genting, muncul sosok yang kemudian menjadi simbol perjuangan rakyat Surabaya, yaitu Bung Tomo.

Melalui siaran radio, Bung Tomo menyampaikan pidato-pidato yang membakar semangat perjuangan rakyat.

Dengan suara yang lantang, ia mengajak seluruh masyarakat mempertahankan kemerdekaan hingga titik darah penghabisan.

Seruannya yang diakhiri dengan pekikan “Allahu Akbar!” menjadi penyemangat ribuan pejuang yang bersiap menghadapi serangan Sekutu.

Pidato Bung Tomo tidak hanya didengar oleh warga Surabaya, tetapi juga oleh masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.


Serangan Besar Dimulai

Pada pagi hari 10 November 1945, tepat setelah batas ultimatum berakhir, pasukan Sekutu melancarkan serangan besar-besaran ke Surabaya.

Serangan dilakukan dari berbagai arah dengan dukungan:

  • Tank tempur.
  • Artileri berat.
  • Kapal perang dari laut.
  • Pesawat tempur yang membombardir beberapa wilayah kota.

Meskipun kalah dalam jumlah pasukan dan persenjataan, para pejuang Indonesia tetap memberikan perlawanan sengit.

Pertempuran terjadi di jalan-jalan, kampung-kampung, gedung pemerintahan, hingga kawasan pelabuhan.

Rakyat biasa ikut membantu perjuangan dengan menyediakan logistik, merawat korban, menyampaikan informasi, bahkan ikut mengangkat senjata.


Perlawanan yang Tidak Mudah Dipatahkan

Sekutu memperkirakan Surabaya dapat dikuasai hanya dalam beberapa hari.

Namun kenyataannya, perlawanan rakyat berlangsung jauh lebih lama dari yang diperkirakan.

Semangat juang para pejuang Indonesia membuat pasukan Sekutu harus menghadapi pertempuran sengit di hampir seluruh penjuru kota.

Perlawanan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa bangsa Indonesia benar-benar mempertahankan kemerdekaannya, bukan sekadar memproklamasikannya.


Fakta Menarik

  • Ultimatum Sekutu dikeluarkan pada 9 November 1945.
  • Serangan besar dimulai pagi hari 10 November 1945.
  • Bung Tomo menjadi ikon perjuangan melalui pidato radionya.
  • Pertempuran Surabaya melibatkan puluhan ribu pejuang dan warga sipil.

  • Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia.
  • Indonesia dalam Arus Sejarah, Kemendikbud RI.
  • George McTurnan Kahin, Nationalism and Revolution in Indonesia.
  • M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia Since c.1200.
  • Penulis: Redaksi Loekepo

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less