Kepo Sejarah Indonesia
light_mode
Kepo Trending
Beranda » Utama » Usaha & Wirausaha » Beras di Alor Sempat Tembus Rp30 Ribu per Kg, Mengapa Harganya Bisa Semahal Itu?

Beras di Alor Sempat Tembus Rp30 Ribu per Kg, Mengapa Harganya Bisa Semahal Itu?

  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 17
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Loekepo.com — Harga beras di sejumlah wilayah Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi perhatian setelah seorang mahasiswa asal daerah tersebut mengungkap harga beras di pedalaman bisa mencapai Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram ketika distribusi terganggu.

Keluhan itu disampaikan Adriano Padama, mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) asal Alor, saat menghadiri kegiatan penerimaan mahasiswa baru di Semarang pada 6 Agustus 2026. Persoalan tersebut kemudian mendapat respons langsung dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Dua hari kemudian, Amran terbang langsung ke Kabupaten Alor untuk melihat kondisi di lapangan. Pemerintah menyatakan stok beras di wilayah tersebut aman dan meminta Bulog memastikan masyarakat memperoleh beras dengan harga terjangkau.

Bukan Berarti Semua Beras di Alor Rp30 Ribu

Angka Rp30.000 per kilogram perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat.

Menurut penjelasan Adriano, harga beras di wilayah perkotaan Alor berada di kisaran Rp13.000–Rp15.000 per kilogram, sedangkan di wilayah pedalaman dapat mencapai sekitar Rp17.000–Rp18.000 pada kondisi normal.

Ketika distribusi terganggu, terutama karena kondisi cuaca, harga di sejumlah wilayah pedalaman disebut dapat melonjak hingga Rp25.000–Rp30.000 per kilogram.

Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar harga beras yang mahal, tetapi juga bagaimana beras dapat didistribusikan secara konsisten ke wilayah kepulauan dan daerah yang sulit dijangkau.

Mengapa Harga Beras Bisa Melonjak?

Ada beberapa faktor yang membantu menjelaskan perbedaan harga tersebut.

1. Produksi Beras Alor Belum Mencukupi Kebutuhan

Menurut Kementerian Pertanian, kebutuhan beras masyarakat Alor mencapai sekitar 24.000–27.000 ton per tahun, sementara produksi daerah hanya mampu memenuhi sekitar 10 persen kebutuhan.

Artinya, sebagian besar kebutuhan beras harus dipenuhi dari pasokan luar daerah. Ketergantungan terhadap pasokan dari luar membuat kelancaran distribusi menjadi faktor yang sangat penting bagi harga di tingkat konsumen.

2. Faktor Geografis Kepulauan

Alor merupakan wilayah kepulauan. Kondisi geografis seperti ini membuat distribusi pangan memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan wilayah yang berada di jaringan transportasi darat utama.

Beras yang diproduksi atau didatangkan dari luar daerah harus melewati rantai distribusi sebelum sampai kepada konsumen.

Ketika pengiriman terganggu, pasokan di wilayah tertentu dapat berkurang. Dalam kondisi pasokan terbatas sementara kebutuhan tetap ada, harga di tingkat konsumen berpotensi meningkat.

Kondisi tersebut menjadi salah satu konteks penting di balik keluhan harga beras di pedalaman Alor.

3. Gangguan Distribusi Bisa Berdampak Besar

Adriano menyebut hujan sebagai salah satu kondisi yang dapat menyulitkan pengiriman beras ke sejumlah wilayah. Ketika distribusi terganggu, harga di daerah yang pasokannya terbatas dapat meningkat jauh dibandingkan harga di pusat perkotaan.

Ini menunjukkan bahwa harga pangan tidak hanya ditentukan oleh harga komoditasnya, tetapi juga oleh biaya dan kelancaran rantai pasok.

Semakin jauh suatu wilayah dari pusat pasokan dan semakin banyak hambatan distribusinya, semakin besar kemungkinan harga yang dibayar konsumen berbeda dari harga di daerah asal atau pusat distribusi.

Pemerintah Langsung Turun Tangan

Keluhan Adriano mendapat respons langsung dari Menteri Pertanian.

Pada 6 Agustus, Amran meminta Bulog segera mengirimkan beras ke Alor dan memastikan masyarakat memperoleh beras dengan harga yang terjangkau. Ia juga meminta adanya penguatan infrastruktur distribusi apabila diperlukan.

Amran kemudian datang langsung ke Alor pada 8 Agustus.

Dalam kunjungan tersebut, ia menyatakan stok beras di gudang Bulog di Alor sudah aman. Ia juga meminta Bulog melakukan operasi pasar apabila masyarakat membutuhkan tambahan pasokan.

Amran menyebut harga beras di Alor saat itu sekitar Rp13.000 per kilogram dan menegaskan pemerintah tidak ingin masyarakat kembali membeli beras dengan harga Rp25.000–Rp30.000 per kilogram.

Berapa Beras yang Sudah Disalurkan?

Data yang dikutip dari Bapanas menunjukkan penyaluran beras SPHP di Kabupaten Alor selama periode Maret–Juli 2026 mencapai 764.070 kilogram.

Penyaluran tersebut dilakukan melalui beberapa jalur, yaitu:

Jalur penyaluranJumlah
Rumah Pangan Kita (RPK)356.470 kg
Pengecer di pasar rakyat352.150 kg
Gerakan Pangan Murah (GPM)55.450 kg
Total764.070 kg

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan Alor bukan berarti tidak ada intervensi pasokan. Tantangannya adalah memastikan pasokan tersebut tersedia secara konsisten dan sampai ke wilayah yang membutuhkan.

Penulis

Redaksi Loekepo merupakan tim editorial yang menyajikan berita, informasi, edukasi, dan liputan terpercaya dari berbagai kategori, mulai dari nasional, internasional, teknologi, pendidikan, gaya hidup, hingga topik khusus. Setiap artikel disusun berdasarkan sumber yang kredibel dan melalui proses penyuntingan sebelum dipublikasikan.

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less