Kepo
light_mode
Kepo Trending
Beranda » Utama » Kerja & Karir » 7 Skill yang Makin Dicari Perusahaan pada 2026

7 Skill yang Makin Dicari Perusahaan pada 2026

  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 34
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Loekepo.com — Empat tahun kuliah, satu lembar ijazah, lalu puluhan lamaran dikirim.

Tetapi balasan yang datang justru sering sama:

“Terima kasih, tetapi kami memilih kandidat lain.”

Bagi banyak lulusan baru, inilah bagian paling membingungkan dari memasuki dunia kerja.

Mereka sudah memiliki gelar.

Sebagian bahkan memiliki IPK tinggi, sertifikat, pengalaman organisasi, dan berbagai prestasi.

Lalu mengapa masih sulit mendapatkan pekerjaan?

Salah satu jawabannya adalah perubahan cara perusahaan melihat kandidat.

Ijazah masih penting, tetapi semakin jarang berdiri sendirian.

Perusahaan membutuhkan orang yang bukan hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan pekerjaan.

Perubahan ini semakin terasa ketika teknologi, kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, dan kebutuhan bisnis terus berkembang.

Laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum (WEF) menunjukkan bahwa sekitar 39 persen keterampilan yang saat ini dibutuhkan dalam pekerjaan diperkirakan berubah atau menjadi usang pada 2030. WEF juga menempatkan skill gaps sebagai salah satu hambatan terbesar bagi transformasi bisnis.

Lalu, kemampuan apa yang semakin penting?

1. Kemampuan Analitis: Tidak Sekadar Bisa Mengolah Angka

Perusahaan semakin membutuhkan orang yang mampu melihat informasi, menemukan pola, lalu mengambil kesimpulan.

Kemampuan ini tidak hanya diperlukan oleh analis data.

Marketing membutuhkan kemampuan membaca performa kampanye.

Sales perlu memahami pola penjualan.

Akuntan harus membaca kondisi keuangan.

Manajer perlu memahami laporan.

Bahkan pekerja administrasi semakin sering berhadapan dengan data.

Menurut WEF, analytical thinking menjadi kemampuan inti yang paling banyak dianggap penting oleh perusahaan dalam surveinya. Sekitar 69 persen pemberi kerja yang disurvei menempatkannya sebagai core skill.

Jadi, kemampuan analitis bukan berarti semua orang harus menjadi ahli matematika.

Sederhananya:

Jangan hanya melihat data. Belajarlah memahami apa arti data tersebut.

Contoh sederhananya

Bukan hanya:

“Penjualan turun 15 persen.”

Tetapi mampu menjelaskan:

“Penjualan turun 15 persen setelah harga dinaikkan dan trafik pelanggan menurun. Karena itu, perusahaan perlu menguji kembali strategi harga dan promosi.”

Itulah kemampuan analitis.

2. Literasi Teknologi: Tidak Harus Jadi Programmer

Teknologi sudah masuk ke hampir semua jenis pekerjaan.

Karena itu, pekerja tidak harus menjadi programmer untuk memiliki kemampuan teknologi.

Yang semakin penting adalah mampu menggunakan teknologi untuk membuat pekerjaan lebih efektif.

Misalnya:

  • menggunakan spreadsheet untuk menganalisis data;
  • menggunakan aplikasi manajemen proyek;
  • memanfaatkan AI untuk pekerjaan yang sesuai;
  • menggunakan perangkat lunak akuntansi;
  • mengelola data pelanggan;
  • membuat laporan digital;
  • memahami keamanan akun dan data.

WEF menempatkan technological literacy sebagai salah satu kemampuan inti yang semakin penting. Dalam daftar keterampilan yang pertumbuhannya paling cepat, literasi teknologi berada di kelompok teratas bersama AI dan big data serta jaringan dan keamanan siber.

Artinya, kemampuan digital perlahan bergerak dari nilai tambah menjadi kemampuan dasar.

3. AI dan Big Data: Bukan Lagi Sekadar Skill Anak Teknologi

Kecerdasan buatan menjadi salah satu perubahan terbesar di dunia kerja.

WEF menempatkan AI and big data sebagai keterampilan yang diperkirakan tumbuh paling cepat dalam kebutuhan perusahaan hingga 2030.

Tetapi ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

Belajar AI bukan berarti semua orang harus menjadi insinyur AI.

Seorang staf pemasaran bisa belajar menggunakan AI untuk:

  • membuat variasi ide konten;
  • menganalisis data kampanye;
  • melakukan riset awal;
  • menyusun segmentasi pelanggan;
  • atau mempercepat pekerjaan administratif.

Seorang penulis dapat menggunakannya untuk riset dan brainstorming.

Seorang analis dapat menggunakannya untuk membantu mengolah informasi.

Seorang pengusaha dapat menggunakannya untuk riset pasar dan layanan pelanggan.

Tetapi kemampuan menggunakan AI harus disertai kemampuan memeriksa hasilnya.

AI dapat membantu pekerjaan.

Namun keputusan tetap membutuhkan manusia.

4. Kemampuan Berkomunikasi: Skill Lama yang Tidak Pernah Mati

Ketika teknologi semakin canggih, komunikasi justru tidak menjadi kurang penting.

Sebaliknya, semakin penting.

Mengapa?

Karena pekerjaan dilakukan bersama manusia.

Seorang programmer harus menjelaskan pekerjaannya kepada tim.

Seorang akuntan harus menjelaskan laporan kepada manajemen.

Seorang sales harus memahami pelanggan.

Seorang pemimpin harus memberikan arahan.

Seorang pekerja harus mampu menulis email dan laporan dengan jelas.

Kemampuan komunikasi tidak hanya berarti pandai berbicara.

Ada setidaknya tiga bagian:

Mendengarkan.

Menjelaskan.

Menulis.

Orang yang memiliki kemampuan teknis tinggi tetapi tidak mampu menjelaskan pekerjaannya dapat kesulitan berkembang.

Karena itu, kemampuan komunikasi sebaiknya dilatih bersamaan dengan kemampuan teknis.

5. Problem Solving: Perusahaan Membutuhkan Orang yang Bisa Menyelesaikan Masalah

Bayangkan seorang karyawan menemukan sistem tidak bekerja.

Pilihan pertama:

“Sistemnya rusak. Saya tunggu.”

Pilihan kedua:

“Sistemnya bermasalah. Saya cek penyebabnya, cari alternatif sementara, lalu laporkan masalahnya kepada tim terkait.”

Perusahaan biasanya lebih membutuhkan cara berpikir kedua.

Karena masalah pasti muncul.

Pelanggan komplain.

Target penjualan tidak tercapai.

Data tidak sesuai.

Mesin berhenti.

Proyek terlambat.

Anggaran membengkak.

Pekerjaan berubah.

Karena itu, problem solving menjadi kemampuan yang sangat berharga.

Kemampuan analitis, berpikir kreatif, dan kemampuan beradaptasi saling berkaitan dengan kemampuan menyelesaikan persoalan. WEF menempatkan analytical thinking sebagai kemampuan inti teratas, sementara creative thinking juga masuk dalam kelompok kemampuan penting yang terus meningkat.

6. Adaptasi dan Ketahanan: Karena Dunia Kerja Tidak Berhenti Berubah

Ini mungkin salah satu kemampuan yang paling sering diremehkan.

Seseorang bisa sangat pintar ketika masuk perusahaan.

Tetapi bagaimana jika enam bulan kemudian sistem kerja berubah?

Bagaimana jika perangkat lunak baru digunakan?

Bagaimana jika tugasnya berubah?

Bagaimana jika perusahaan masuk ke pasar baru?

Bagaimana jika sebagian pekerjaannya mulai dibantu AI?

Kemampuan untuk beradaptasi menjadi penting.

WEF menempatkan resilience, flexibility and agility sebagai salah satu kemampuan inti teratas setelah kemampuan analitis.

Artinya perusahaan tidak hanya mencari orang yang bisa mengerjakan pekerjaan hari ini.

Mereka juga membutuhkan orang yang kemungkinan masih mampu mengerjakan pekerjaan yang berubah besok.

7. Kemauan Belajar: Skill yang Membuat Skill Lain Tidak Cepat Usang

Bayangkan seseorang memiliki kemampuan yang sangat dibutuhkan pada 2026.

Tetapi ia berhenti belajar.

Sementara teknologi, proses kerja, dan kebutuhan industri terus berubah.

Beberapa tahun kemudian, kemampuan yang dimilikinya mungkin tidak lagi cukup.

Karena itu, curiosity and lifelong learning semakin penting.

WEF memasukkan rasa ingin tahu dan pembelajaran sepanjang hayat sebagai kemampuan yang diperkirakan terus meningkat relevansinya hingga 2030.

Ini bukan berarti setiap orang harus mengikuti kursus setiap minggu.

Belajar bisa dilakukan dengan banyak cara:

  • membaca;
  • mengikuti pelatihan;
  • mengerjakan proyek;
  • belajar dari rekan kerja;
  • mencoba teknologi baru;
  • mengikuti perkembangan industri;
  • atau mempelajari pekerjaan yang berhubungan dengan profesi sendiri.

Yang penting adalah tidak merasa:

“Saya sudah lulus, berarti saya sudah selesai belajar.”

Penulis

Redaksi Loekepo merupakan tim editorial yang menyajikan berita, informasi, edukasi, dan liputan terpercaya dari berbagai kategori, mulai dari nasional, internasional, teknologi, pendidikan, gaya hidup, hingga topik khusus. Setiap artikel disusun berdasarkan sumber yang kredibel dan melalui proses penyuntingan sebelum dipublikasikan.

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less