Karena Rasa Ingin Tahu Membawa Kamu Lebih Jauh Senin, 26 Oktober 2026

Beranda/Travel & Wisata

Mengenal Suku Bajo di Wakatobi, Kehidupan Suku Laut yang Masih Bertahan

Mengenal kehidupan Suku Bajo di Wakatobi, mulai dari sejarah, budaya, Desa Mola, Desa Sampela, rumah di atas laut, hingga wisata budaya dan tantangan modernisasi.

Mengenal Suku Bajo di Wakatobi, Kehidupan Suku Laut yang Masih Bertahan

LOEKEPO.COM – Di tengah birunya perairan Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara, hidup sebuah komunitas yang telah menjadikan laut sebagai rumah selama berabad-abad. Mereka adalah Suku Bajo, kelompok masyarakat maritim yang dikenal luas sebagai “pengembara laut” karena memiliki sejarah panjang hidup berpindah-pindah di atas perahu sebelum akhirnya menetap di berbagai wilayah pesisir Indonesia.

Di Kabupaten Wakatobi, kehidupan Suku Bajo masih dapat ditemui di sejumlah permukiman, terutama Desa Mola di Pulau Wangi-Wangi dan Desa Sampela di Pulau Kaledupa. Kedua desa tersebut tidak hanya menjadi tempat tinggal masyarakat Bajo, tetapi juga menjadi destinasi wisata budaya yang menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan yang ingin mengenal kehidupan masyarakat pesisir secara lebih dekat.

Bagi masyarakat Bajo, laut bukan sekadar tempat mencari nafkah. Laut adalah ruang hidup, sumber pangan, jalur transportasi, sekaligus bagian dari identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.


Siapa Suku Bajo?

Suku Bajo merupakan salah satu kelompok etnis maritim yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, hingga Maluku. Komunitas Bajo juga ditemukan di Malaysia dan Filipina, menunjukkan sejarah mobilitas mereka yang luas di kawasan Asia Tenggara.

Asal-usul Suku Bajo masih menjadi bahan kajian para peneliti. Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa mereka telah berlayar dan bermukim di kawasan pesisir Nusantara selama ratusan tahun. Dahulu, banyak keluarga Bajo menjalani kehidupan nomaden dengan tinggal di atas perahu tradisional yang dikenal sebagai leppa, berpindah mengikuti musim, arus laut, dan lokasi penangkapan ikan.

IKLAN

Seiring waktu, sebagian masyarakat Bajo mulai membangun rumah panggung di atas laut atau di pesisir pantai. Meski demikian, keterikatan mereka dengan laut tetap menjadi ciri khas yang membedakan mereka dari komunitas lainnya.


Baca Juga