Mengenal Suku Bajo di Wakatobi, Kehidupan Suku Laut yang Masih Bertahan
Mengenal kehidupan Suku Bajo di Wakatobi, mulai dari sejarah, budaya, Desa Mola, Desa Sampela, rumah di atas laut, hingga wisata budaya dan tantangan modernisasi.
Desa Mola, Permukiman Bajo Terbesar di Wakatobi
Desa Mola yang berada di Pulau Wangi-Wangi dikenal sebagai salah satu permukiman Suku Bajo terbesar di Kabupaten Wakatobi. Lokasinya tidak jauh dari pusat pemerintahan kabupaten sehingga relatif mudah dijangkau oleh wisatawan.
Di desa ini, pengunjung dapat melihat kehidupan masyarakat yang masih sangat dekat dengan laut. Deretan rumah panggung berdiri di atas perairan dangkal dan dihubungkan oleh jalan setapak, sementara perahu-perahu nelayan bersandar di bawah rumah atau di dermaga kecil.
Selain aktivitas melaut, sebagian warga juga bekerja di sektor pariwisata, seperti menjadi pemandu wisata, operator kapal, atau membuka usaha homestay dan kuliner. Kehadiran wisatawan memberikan peluang ekonomi baru, namun masyarakat tetap berupaya mempertahankan tradisi dan identitas budaya mereka.
Desa Sampela, Kampung Bajo di Atas Laut
Di Pulau Kaledupa terdapat Desa Sampela, salah satu kampung Bajo yang terkenal karena hampir seluruh permukimannya berada di atas laut. Rumah-rumah panggung yang saling terhubung menciptakan lanskap unik yang menjadi daya tarik wisata budaya Wakatobi.
Sebagian besar masyarakat Sampela masih menggantungkan hidup pada hasil laut, meskipun kini beberapa keluarga juga mulai mengembangkan usaha kecil, kerajinan, serta layanan wisata berbasis masyarakat (community-based tourism).
Wisatawan yang berkunjung dapat menyaksikan langsung kehidupan sehari-hari warga, seperti nelayan yang baru kembali melaut, anak-anak bermain di sekitar rumah panggung, hingga proses perbaikan perahu tradisional. Pengalaman ini memberikan gambaran nyata tentang bagaimana laut tetap menjadi pusat kehidupan masyarakat Bajo.
Tradisi dan Adat Istiadat Suku Bajo
Bagi masyarakat Bajo, kehidupan tidak dapat dipisahkan dari laut. Nilai-nilai adat yang diwariskan turun-temurun mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Pengetahuan mengenai musim, arah angin, arus laut, hingga lokasi penangkapan ikan diwariskan secara lisan dari orang tua kepada anak-anak sejak usia dini.
Dalam kehidupan sehari-hari, gotong royong masih menjadi bagian penting. Warga saling membantu ketika membangun rumah, memperbaiki perahu, maupun saat ada kegiatan adat dan keagamaan.
Mayoritas masyarakat Bajo di Wakatobi memeluk agama Islam. Berbagai tradisi keagamaan seperti peringatan Maulid Nabi, Idulfitri, Iduladha, hingga doa bersama sebelum melaut masih rutin dilaksanakan sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Karena Rasa Ingin Tahu Membawa Kamu Lebih Jauh