Kepo Sejarah Indonesia
light_mode
Kepo Trending
Beranda » Utama » Usaha & Wirausaha » Panduan Memulai Usaha Modal Kecil dari Nol Setelah PHK

Panduan Memulai Usaha Modal Kecil dari Nol Setelah PHK

  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 11
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

5. Cari Masalah yang Bisa Dijadikan Peluang

Tidak semua usaha harus dimulai dari produk.

Bisa dimulai dari masalah.

Misalnya di sekitar tempat tinggal banyak orang sibuk bekerja.

Masalahnya:

tidak punya waktu memasak.

Peluang:

makanan rumahan dengan sistem pre-order.

Contoh lain:

Banyak pemilik UMKM tidak sempat membuat konten.

Peluang:

jasa pembuatan konten sederhana.

Banyak toko kecil kesulitan mengelola administrasi.

Peluang:

jasa administrasi untuk UMKM.

Cara berpikir seperti ini membantu menemukan bisnis yang lebih dekat dengan kebutuhan pasar.

6. Uji Pasar Sebelum Mengeluarkan Modal Besar

Sebelum mengembangkan usaha, lakukan validasi sederhana.

Misalnya ingin menjual makanan.

Jangan langsung memproduksi 100 porsi.

Mulai dengan:

10–20 porsi.

Tawarkan kepada calon pelanggan.

Catat:

  • berapa yang membeli;
  • produk apa yang paling disukai;
  • berapa harga yang dianggap masuk akal;
  • berapa orang yang melakukan pembelian ulang;
  • berapa keuntungan sebenarnya.

Jika produk tidak laku, kerugian masih kecil.

Jika laku, produksi dapat dinaikkan secara bertahap.

7. Pelanggan Pertama Lebih Penting daripada Logo

Pada tahap awal, banyak orang terlalu fokus pada:

  • logo;
  • kartu nama;
  • kemasan;
  • desain feed;
  • nama bisnis.

Semua itu memang dapat menjadi penting ketika bisnis berkembang.

Namun, pada tahap awal ada pertanyaan yang jauh lebih penting:

Siapa yang mau membeli?

Jika belum ada pelanggan, logo yang bagus tidak menyelesaikan masalah.

Prioritas awal seharusnya:

produk → pelanggan → transaksi → evaluasi → perbaikan → baru scale-up.

8. Gunakan Sistem Pre-Order Jika Memungkinkan

Pre-order dapat membantu mengurangi risiko modal.

Misalnya ingin menjual makanan.

Daripada membuat 50 porsi lalu berharap semuanya terjual, buka pemesanan terlebih dahulu.

Jika ada 20 pesanan, produksi 20 porsi.

Model seperti ini dapat membantu:

  • mengurangi stok;
  • mengurangi makanan terbuang;
  • mengurangi kebutuhan modal;
  • mengetahui permintaan;
  • mengukur minat pelanggan.

Tentu tidak semua jenis usaha cocok menggunakan pre-order.

Namun, jika memungkinkan, sistem tersebut dapat menjadi alat validasi yang sederhana.

9. Hitung HPP Sebelum Menentukan Harga

Jangan menentukan harga hanya berdasarkan:

“Pesaing menjual Rp20 ribu, berarti saya jual Rp20 ribu.”

Hitung terlebih dahulu biaya sebenarnya.

Misalnya produk makanan memiliki:

  • bahan baku: Rp8.000;
  • kemasan: Rp2.000;
  • gas/listrik: Rp500;
  • bumbu tambahan: Rp1.000;
  • biaya lain: Rp500.

HPP sederhana:

Rp12.000.

Jika dijual Rp20.000, margin kotor:

Rp8.000.

Namun angka tersebut belum tentu menjadi keuntungan bersih karena masih ada biaya pemasaran, transportasi, sewa, tenaga kerja, dan biaya lainnya.

Karena itu, omzet tidak sama dengan keuntungan.

10. Jangan Mengikuti Tren Tanpa Menghitung

Produk yang sedang viral memang dapat menarik perhatian.

Tetapi tren tidak menjamin bisnis menguntungkan.

Sebelum mengikuti tren, tanyakan:

  • Apakah saya bisa membuat produknya?
  • Berapa modalnya?
  • Berapa margin?
  • Siapa target konsumennya?
  • Berapa lama tren diperkirakan bertahan?
  • Apakah ada pembelian berulang?
  • Bagaimana jika pesaing bertambah?

Bisnis yang sehat tidak hanya bergantung pada viral.

Lebih baik memiliki pelanggan yang membeli berulang daripada banyak orang yang hanya mencoba sekali.

11. Manfaatkan Lingkungan Terdekat sebagai Pasar Pertama

Tidak selalu perlu langsung berjualan secara nasional.

Mulailah dari radius yang mudah dijangkau.

Misalnya:

  • lingkungan rumah;
  • perumahan;
  • kantor sekitar;
  • sekolah;
  • komunitas;
  • teman profesional;
  • grup lokal.

Tujuannya mendapatkan pelanggan pertama sekaligus memperoleh feedback.

Jika produk sudah terbukti, barulah jangkauan pemasaran diperluas.

Penulis

Redaksi Loekepo merupakan tim editorial yang menyajikan berita, informasi, edukasi, dan liputan terpercaya dari berbagai kategori, mulai dari nasional, internasional, teknologi, pendidikan, gaya hidup, hingga topik khusus. Setiap artikel disusun berdasarkan sumber yang kredibel dan melalui proses penyuntingan sebelum dipublikasikan.

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less