Bekerja di Luar Negeri Worth It? Perbandingan Gaji, Biaya Hidup, dan Risiko bagi Calon PMI
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi calon pekerja migran Indonesia yang bersiap berangkat ke luar negeri. Keputusan bekerja di luar negeri perlu mempertimbangkan gaji, biaya hidup, peluang karier, dan risikonya.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sulitnya mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang sesuai harapan membuat banyak masyarakat Indonesia mulai melirik peluang bekerja di luar negeri. Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Australia, Jerman, hingga beberapa negara di Timur Tengah menjadi tujuan favorit karena menawarkan penghasilan yang dinilai lebih tinggi dibandingkan rata-rata upah di Indonesia.
Namun, apakah bekerja di luar negeri benar-benar sepadan dengan pengorbanannya?
Jawabannya tidak selalu ya. Besarnya gaji memang menjadi daya tarik utama, tetapi calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) juga harus mempertimbangkan biaya hidup, sistem kerja, budaya, kontrak, hingga peluang menabung sebelum mengambil keputusan. Pemerintah melalui Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) juga terus mendorong masyarakat memilih jalur penempatan resmi agar mendapatkan perlindungan hukum dan hak-hak sebagai pekerja. (KP2MI)
Mengapa Semakin Banyak Orang Ingin Bekerja di Luar Negeri?
Dalam beberapa tahun terakhir, minat bekerja di luar negeri terus meningkat. Salah satu penyebab utamanya adalah perbedaan tingkat pendapatan yang cukup jauh dibandingkan sejumlah pekerjaan di Indonesia.
Selain gaji, banyak calon PMI melihat kesempatan bekerja di luar negeri sebagai cara untuk memperoleh pengalaman internasional, meningkatkan keterampilan, memperluas jaringan profesional, hingga mengumpulkan modal usaha ketika kembali ke Tanah Air.
KP2MI bahkan mengarahkan kebijakan terbaru untuk meningkatkan kualitas pekerja migran Indonesia melalui penempatan tenaga kerja medium skill dan high skill, sehingga tidak hanya mengejar jumlah penempatan, tetapi juga kualitas pekerjaan yang diperoleh. (KP2MI)
Perbandingan Kisaran Gaji dan Biaya Hidup
Perlu dipahami bahwa setiap negara memiliki standar upah, biaya hidup, pajak, serta aturan ketenagakerjaan yang berbeda. Besaran berikut merupakan kisaran estimasi berdasarkan berbagai referensi tahun 2025 dan dapat berubah tergantung jenis pekerjaan, kota penempatan, jam lembur, kontrak kerja, serta kurs mata uang.
| Negara | Kisaran Gaji/Bulan | Biaya Hidup | Potensi Tabungan |
|---|---|---|---|
| Jepang | Rp22–40 juta | Rp10–18 juta | Rp10–22 juta |
| Korea Selatan | Rp28–45 juta | Rp12–20 juta | Rp12–25 juta |
| Taiwan | Rp18–35 juta | Rp8–15 juta | Rp8–20 juta |
| Australia | Rp45–80 juta | Rp25–40 juta | Rp15–35 juta |
| Jerman | Rp40–70 juta | Rp20–35 juta | Rp15–30 juta |
| Timur Tengah | Rp12–35 juta | Rp4–12 juta* | Rp8–25 juta |
*Di sejumlah negara Timur Tengah, perusahaan sering menyediakan tempat tinggal dan transportasi sehingga pengeluaran pekerja dapat lebih rendah.
Jepang Masih Menjadi Favorit
Jepang masih menjadi salah satu negara tujuan utama PMI, terutama untuk sektor manufaktur, perawat lansia (caregiver), pertanian, perikanan, hingga konstruksi.
Kelebihan bekerja di Jepang antara lain:
- Gaji relatif tinggi.
- Sistem kerja yang tertata.
- Kesempatan meningkatkan keterampilan.
- Peluang belajar bahasa Jepang.
Namun, biaya hidup di kota besar seperti Tokyo atau Osaka juga cukup tinggi. Selain itu, budaya kerja yang disiplin dan jam kerja yang padat menuntut kesiapan fisik maupun mental.
KP2MI juga terus memperluas kerja sama pendidikan dan magang dengan berbagai institusi guna meningkatkan kompetensi calon pekerja sebelum diberangkatkan. (KP2MI)
Korea Selatan Menawarkan Gaji Tinggi, tetapi Seleksinya Ketat
Bagi banyak calon PMI, Korea Selatan dikenal sebagai salah satu negara dengan potensi tabungan terbesar.
Program Government to Government (G to G) menjadi jalur resmi yang banyak diminati karena menawarkan perlindungan lebih baik dibanding jalur nonresmi.
Namun, proses seleksinya cukup ketat. Calon pekerja harus memenuhi persyaratan administrasi, kesehatan, kemampuan bahasa Korea, hingga mengikuti berbagai tahapan seleksi sebelum diberangkatkan.
KP2MI juga mengingatkan agar pekerja mematuhi kontrak kerja, tidak meninggalkan tempat kerja secara ilegal, dan memanfaatkan masa kerja di luar negeri untuk meningkatkan kompetensi maupun pendidikan. (KP2MI)
- Penulis: Redaksi Loekepo


