Kuliah Lagi atau Mulai Usaha? Pilihan Setelah Sulit Dapat Kerja
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 17
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kuliah lagi atau memulai usaha menjadi dua pilihan yang dapat dipertimbangkan setelah sulit mendapatkan pekerjaan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Loekepo.com — Setelah berbulan-bulan mengirim lamaran dan belum mendapatkan pekerjaan, ada satu pertanyaan yang mulai muncul:
“Haruskah saya kuliah lagi, atau sekalian mulai usaha?”
Pertanyaan ini semakin relevan bagi anak muda yang merasa gelar yang sudah dimiliki belum cukup membuka pintu pekerjaan.
Namun mengambil gelar baru membutuhkan waktu dan biaya.
Memulai usaha juga membutuhkan modal, kemampuan, keberanian, dan kesiapan menghadapi risiko.
Jadi, mana yang lebih masuk akal?
Jawabannya tidak bisa disamakan untuk semua orang.
Kuliah lagi bisa menjadi investasi.
Usaha juga bisa menjadi investasi.
Tetapi keduanya bisa menjadi keputusan yang mahal jika dilakukan tanpa menghitung terlebih dahulu.
Menganggur Bukan Berarti Harus Langsung Kuliah Lagi
Ketika seseorang sulit mendapatkan pekerjaan, respons yang cukup umum adalah:
“Mungkin saya kurang pendidikan.”
Lalu muncul keputusan untuk mengambil S2, kursus panjang, sertifikasi, atau pendidikan tambahan.
Masalahnya, belum tentu pendidikan menjadi masalah utamanya.
Bisa saja persoalannya adalah:
- skill yang belum sesuai kebutuhan perusahaan;
- tidak memiliki pengalaman;
- CV kurang kuat;
- tidak memiliki portofolio;
- hanya melamar pekerjaan tertentu;
- lokasi pencarian terlalu terbatas;
- atau memang kondisi pasar kerja sedang kompetitif.
Data BPS menunjukkan bahwa pada Februari 2026 Indonesia memiliki 154,91 juta orang dalam angkatan kerja dan 147,67 juta penduduk bekerja. Tingkat Pengangguran Terbuka berada di 4,68 persen.
BPS juga mencatat bahwa pada 2025 terdapat lebih dari 1 juta penganggur berpendidikan universitas pada Februari dan lebih dari 900 ribu pada Agustus.
Artinya, menambah gelar tidak otomatis menyelesaikan masalah pekerjaan.
Pertanyaan pertama seharusnya:
“Apa sebenarnya yang membuat saya belum diterima kerja?”
Kapan Kuliah Lagi Masuk Akal?
Kuliah lagi bukan keputusan yang buruk.
Bahkan dalam beberapa kondisi, pendidikan tambahan memang sangat masuk akal.
1. Jika Profesi yang Diinginkan Memang Membutuhkan Gelar Lebih Tinggi
Ada bidang yang membutuhkan pendidikan lanjutan sebagai bagian dari jalur profesional.
Jika target karier memang membutuhkan S2 atau pendidikan profesi tertentu, kuliah lagi dapat menjadi langkah strategis.
Tetapi jangan mengambil S2 hanya karena:
“Daripada menganggur.”
Pendidikan lanjutan sebaiknya memiliki tujuan yang jelas.
Misalnya:
S1 → pengalaman kerja → S2 spesialisasi → posisi yang lebih tinggi.
Bukan:
S1 → menganggur → S2 → menganggur lagi.
2. Jika Gelar Baru Mengubah Posisi Anda di Pasar Kerja
Ada perbedaan antara pendidikan yang hanya menambah gelar dan pendidikan yang benar-benar membuka pintu baru.
Misalnya seseorang memiliki latar belakang tertentu tetapi ingin berpindah ke bidang yang membutuhkan kompetensi akademik khusus.
Dalam kondisi seperti itu, pendidikan tambahan bisa menjadi jembatan.
Namun sebelum mendaftar, lihat terlebih dahulu lowongan pekerjaan yang ingin dituju.
Cari sekitar 20–30 lowongan.
Lihat persyaratannya.
Jika sebagian besar meminta gelar atau kompetensi tertentu yang belum Anda miliki, pendidikan tambahan mungkin masuk akal.
Kapan Kuliah Lagi Justru Kurang Tepat?
Ada juga kondisi ketika mengambil gelar baru hanya menjadi cara menunda masuk dunia kerja.
Misalnya:
Tidak tahu mau bekerja sebagai apa → kuliah lagi.
Lulus.
Masih tidak tahu → kuliah lagi.
Ini bisa menjadi lingkaran yang mahal.
Apalagi jika biaya pendidikan berasal dari tabungan keluarga atau pinjaman.
Sebelum kuliah lagi, tanyakan:
“Setelah lulus, pekerjaan apa yang secara realistis akan saya incar?”
Kalau tidak bisa menjawabnya, mungkin masalahnya belum selesai.
Bagaimana Jika Mengambil S2 Hanya untuk Menunggu Ekonomi Membaik?
Ini juga perlu hati-hati.
Jika seseorang memiliki kesempatan pendidikan yang baik dan biaya yang terjangkau, keputusan tersebut bisa saja rasional.
Tetapi jika tujuan utamanya hanya:
“Saya belum dapat kerja, jadi saya kuliah lagi.”
maka ada alternatif yang sering lebih murah:
- pelatihan;
- magang;
- proyek;
- freelance;
- sertifikasi;
- kursus;
- volunteer;
- atau pekerjaan entry-level.
Kementerian Ketenagakerjaan sendiri menjalankan Program Pelatihan Vokasi Nasional 2026 yang dirancang agar peserta meningkatkan keterampilan sesuai kebutuhan industri. Program tersebut juga ditujukan agar peserta siap bekerja maupun berwirausaha.
Artinya, menambah kompetensi tidak selalu harus melalui gelar akademik baru.
Bagaimana dengan Memulai Usaha?
Pilihan kedua adalah:
“Kalau perusahaan tidak menerima saya, kenapa tidak menciptakan pekerjaan sendiri?”
Ini terdengar menarik.
Tetapi usaha bukan jalan keluar otomatis dari pengangguran.
Usaha adalah pekerjaan dengan tingkat ketidakpastian yang lebih tinggi.
Tidak ada HRD yang menolak CV.
Tetapi ada pelanggan yang menolak membeli.
Tidak ada wawancara.
Tetapi ada pasar yang menguji apakah produk Anda memang dibutuhkan.
Tidak ada surat penolakan.
Tetapi ada risiko:
modal habis.
Karena itu, memulai usaha membutuhkan cara berpikir yang berbeda.
Jangan Mulai Usaha Karena Frustrasi
Ini salah satu prinsip terpenting.
Jangan memulai bisnis hanya karena:
“Saya sudah capek melamar kerja.”
Frustrasi bisa menjadi energi awal.
Tetapi tidak cukup menjadi alasan bisnis.
Pertanyaan yang lebih penting:
Siapa yang akan membeli?
Masalah apa yang diselesaikan?
Berapa harga yang bersedia dibayar?
Berapa biaya untuk menghasilkan produk?
Bagaimana mendapatkan pelanggan pertama?
Kalau belum memiliki jawabannya, bisnis masih berupa ide.
Usaha Tidak Harus Dimulai dengan Modal Besar
Kesalahan lain adalah menganggap bisnis harus langsung berbentuk:
- toko;
- kantor;
- kafe;
- gudang;
- atau perusahaan dengan banyak karyawan.
Tidak selalu.
Anak muda bisa mulai dari bisnis berbasis skill.
Contohnya:
- desain grafis;
- editing video;
- fotografi;
- jasa website;
- social media management;
- copywriting;
- les privat;
- penerjemahan;
- konsultasi sesuai kompetensi;
- jasa administrasi;
- atau berbagai layanan digital.
Keuntungannya:
modal awal relatif lebih kecil.
Yang dijual adalah kemampuan.
Uji Bisnis Sebelum Mengeluarkan Modal Besar
Jangan langsung menyewa tempat.
Jangan langsung membeli peralatan mahal.
Jangan langsung membuat stok besar.
Lakukan eksperimen kecil.
Misalnya Anda ingin menjual makanan.
Daripada langsung membuka restoran:
buat 20 porsi.
Tawarkan kepada calon pelanggan.
Lihat apakah habis.
Tanyakan mengapa mereka membeli.
Hitung keuntungan.
Kemudian ulangi.
Jika permintaan meningkat, baru pertimbangkan memperbesar usaha.
Prinsipnya:
Validasi pelanggan sebelum memperbesar modal.
Kuliah dan Usaha Sebenarnya Tidak Harus Berlawanan
Ada pilihan ketiga yang sering dilupakan:
kuliah sambil membangun usaha.
Atau:
kerja sambil membangun usaha kecil.
Misalnya seseorang ingin mengambil S2.
Ia bisa mencari pekerjaan atau proyek freelance yang berhubungan dengan bidang studinya.
Dengan begitu:
pendidikan + pengalaman + penghasilan
berjalan bersamaan.
Demikian juga seseorang yang ingin menjadi pengusaha.
Tidak harus langsung berhenti mencari pekerjaan.
Bisa bekerja sambil menguji bisnis kecil pada malam atau akhir pekan, selama tidak melanggar aturan pekerjaan dan tetap menjaga kualitas kerja.
Gunakan Rumus Opportunity Cost
Setiap keputusan memiliki biaya yang tidak terlihat.
Ini disebut opportunity cost.
Misalnya:
Pilihan A — S2
Biaya kuliah: Rp80 juta.
Waktu: 2 tahun.
Penghasilan yang tidak diperoleh selama kuliah: misalnya Rp5 juta × 24 bulan = Rp120 juta.
Total nilai ekonomi yang harus dipertimbangkan bukan hanya Rp80 juta.
Ada juga waktu dan peluang penghasilan yang dilepas.
Sebaliknya:
Pilihan B — Kerja
Penghasilan mungkin lebih rendah.
Tetapi selama dua tahun seseorang mendapatkan:
- pengalaman;
- jaringan;
- skill;
- portofolio;
- dan penghasilan.
Pilihan C — Usaha
Modal mungkin Rp20 juta.
Tetapi ada risiko modal tidak kembali.
Namun jika berhasil, bisnis dapat berkembang menjadi sumber penghasilan yang lebih besar.
Karena itu, jangan membandingkan:
“Biaya kuliah Rp80 juta vs modal usaha Rp20 juta.”
Bandingkan:
total biaya + waktu + risiko + peluang hasil.
Buat Perhitungan Sederhana
Sebelum mengambil keputusan, buat tiga kolom.
| Pilihan | Biaya | Potensi hasil |
|---|---|---|
| Kuliah lagi | Uang kuliah + waktu | Gelar + akses profesi + jaringan |
| Kerja | Waktu + energi | Penghasilan + pengalaman |
| Usaha | Modal + risiko | Laba + aset bisnis + pengalaman |
Kemudian tambahkan:
Probabilitas berhasil.
Ini penting.
Jangan hanya melihat hasil terbaik.
Bayangkan juga skenario terburuk.
Skenario Kuliah Lagi
Skenario terbaik
Lulus → mendapatkan pekerjaan lebih baik → pendapatan meningkat.
Skenario tengah
Lulus → mendapatkan pekerjaan yang kurang lebih sama → gelar bertambah tetapi perubahan karier kecil.
Skenario buruk
Lulus → tetap sulit mendapat pekerjaan → memiliki biaya pendidikan tambahan.
Penulis Redaksi Loekepo
Redaksi Loekepo merupakan tim editorial yang menyajikan berita, informasi, edukasi, dan liputan terpercaya dari berbagai kategori, mulai dari nasional, internasional, teknologi, pendidikan, gaya hidup, hingga topik khusus. Setiap artikel disusun berdasarkan sumber yang kredibel dan melalui proses penyuntingan sebelum dipublikasikan.
