Waspada Scam AI Deepfake Rekening Bank, Ini Ciri dan Cara Mencegahnya
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

Waspadai modus penipuan baru berbasis AI deepfake yang dapat menirukan suara dan wajah untuk menguras rekening bank.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA — Fenomena penipuan siber berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dengan teknik deepfake dan voice cloning kini tengah mengancam keamanan perbankan serta privasi data digital masyarakat di seluruh Indonesia. Pelaku kejahatan memanfaatkan rekaman suara dan foto yang diunggah korban ke media sosial untuk direkayasa menjadi video atau panggilan audio palsu. Dengan modus mendesak, para penipu berpura-pura menjadi kerabat dekat maupun petugas bank resmi demi menguras isi rekening nasabah.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tren lonjakan laporan penipuan digital yang makin marak memanfaatkan manipulasi teknologi ini. Penipuan berbasis fake call dan peretasan identitas kini mendominasi aduan masyarakat, di mana pelaku membuat ilusi visual serta audio yang tampak amat meyakinkan.
Cara Kerja Modus Deepfake Menguras Rekening
Langkah awal kejahatan ini kerap dimulai dari pengumpulan data pribadi (scraping) di platform media sosial. Foto wajah, video pendek, hingga rekaman suara anak atau anggota keluarga yang tersebar secara terbuka dimanfaatkan oleh generator AI untuk mereplikasi identitas korban secara presisi.
Setelah identitas tiruan berhasil dibuat, pelaku akan menghubungi calon korban melalui panggilan telepon atau video (video call). Pelaku kemudian memicu kepanikan dengan mengabarkan kondisi darurat—seperti kecelakaan atau masalah hukum mendesak—dan meminta transfer uang segera ke rekening tertentu. Di sisi lain, modus ini juga dipakai untuk mengelabui nasabah agar mau memberikan data rahasia perbankan seperti One-Time Password (OTP), nomor CVV, hingga PIN m-banking.
“Kami menemukan banyak kasus di mana pelaku meniru suara teman atau keluarga korban dengan teknologi AI. Suara tersebut diambil dari media sosial, lalu disalahgunakan untuk menipu. Jangan langsung percaya jika menerima pesan suara atau video yang tidak biasa. Selalu periksa ulang lewat jalur komunikasi lain.”
— Frederica Widyasari Dewi
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK
Jakarta
04 Agustus 2025
Tanda-Tanda Utama Panggilan dan Video AI Palsu
Meskipun teknologi AI mampu meniru identitas dengan rapi, terdapat beberapa indikasi fisik dan teknis yang dapat dikenali masyarakat untuk membedakan interaksi asli dan buatan:
- Ketidaksesuaian Gerak Bibir: Gerakan bibir pada video call sering kali tidak sinkron dengan suara yang keluar.
- Kedipan Mata dan Ekspresi Canggung: Tatapan mata cenderung kaku, jarang berkedip, atau justru pola kedipannya tidak alami.
- Intonasi Suara Datar: Hasil kloning suara AI kerap memunculkan nada bicara yang sedikit monoton (robotic), terdapat jeda aneh, atau distorsi saat mengucapkan kalimat panjang.
- Kualitas Visual Tidak Seimbang: Wajah terlihat sangat mulus atau agak buram, sementara area latar belakang tampak berbeda kualitasnya.
Panduan Pencegahan dan Keamanan Data Digital
Industri perbankan nasional juga terus mengingatkan nasabah untuk meningkatkan kewaspadaan. Pihak perbankan menegaskan bahwa lembaga keuangan resmi tidak pernah meminta kode OTP, PIN, maupun password pribadi melalui saluran telepon atau pesan singkat.
Langkah praktis yang dapat diterapkan masyarakat untuk membentengi diri dari kejahatan AI deepfake meliputi:
- Prinsip Two-Way Verification: Jika menerima telepon dari kerabat yang meminta bantuan dana mendesak, segera matikan sambungan dan hubungi kembali nomor asli kerabat tersebut melalui kanal lain.
- Batasi Jejak Digital: Hindari mengunggah video atau suara anak-anak dan keluarga secara berlebihan dengan mode publik di media sosial.
- Gunakan Pertanyaan Kunci: Ajukan pertanyaan spesifik yang hanya diketahui oleh Anda dan kerabat yang bersangkutan untuk menguji keaslian lawan bicara.
- Jaga Kerahasiaan Data Finansial: Jangan pernah membagikan OTP, PIN, nomor kartu debit/kredit, atau CVV kepada siapa pun.
Kesadaran akan keamanan privasi data digital serta sikap tidak mudah panik menjadi kunci utama dalam menangkal ancaman kejahatan siber yang kian canggih.
- Penulis: Redaksi Loekepo



