Berburu Sertifikat atau Kehilangan Warasan? Sisi Gelap Berburu Kompetisi Mahasiswa demi CV yang Sempurna
- calendar_month 16 jam yang lalu
- visibility 7
- print Cetak

Ambisi mengumpulkan medali sering kali dibayar mahal dengan berkurangnya jam tidur dan kesehatan mental.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pemberitahuan di grup percakapan ponsel pintar mendadak bising ketika sebuah pamflet digital berwarna mencolok dibagikan secara berantai. Isinya hampir selalu seragam: ajakan untuk mengikuti kompetisi bisnis tingkat nasional, lomba karya tulis ilmiah, atau hackathon dengan iming-iming hadiah puluhan juta rupiah beserta sertifikat bertaraf internasional. Bagi mahasiswa tingkat awal, selebaran digital ini tampak seperti tiket emas menuju masa depan karier yang gemilang. Namun, di balik panggung megah penyerahan piala dan kilatan lampu kilat kamera, ada realitas sunyi yang jarang dibicarakan: lingkaran setan kecemasan, pengorbanan finansial yang tidak sedikit, hingga persahabatan yang retak akibat benturan ego di dalam kelompok kerja.
Halo, Warga Kepo! Senang sekali bisa kembali menyapa kalian di ruang editorial yang jujur, blak-blakan, dan paling anti-gimmick. Belakangan ini, ada tren yang cukup mengkhawatirkan di kalangan mahasiswa kita. Mengikuti perlombaan bukan lagi didasari oleh rasa penasaran ilmiah yang murni atau keinginan tulus untuk mengembangkan bakat terpendam, melainkan berubah menjadi komoditas gengsi yang dipicu oleh ketakutan ekstrem akan ketertinggalan alias FOMO. Kita melihat banyak anak muda yang mendaftarkan diri ke lima kompetisi berbeda dalam satu semester tanpa perhitungan yang matang, hanya demi mengisi kolom ‘Prestasi’ di halaman LinkedIn mereka agar tidak terlihat kosong dibanding milik teman seangkatan. Mari kita bedah bersama, bagaimana cara menavigasi ambisi kompetisi ini agar tetap menghasilkan cuan dan prestasi tanpa perlu menumbalkan kesehatan mental kita.
- Penulis: Redaksi Loekepo







