Kepo
light_mode
Kepo Trending
Beranda » Utama » Kerja & Karir » S1, S2, S3 Menganggur: Apa yang Dicari Perusahaan?

S1, S2, S3 Menganggur: Apa yang Dicari Perusahaan?

  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 21
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Literasi Digital Bukan Hanya Urusan Anak IT

Kesalahpahaman lain adalah menganggap kemampuan digital hanya diperlukan oleh programmer atau pekerja teknologi.

Padahal hampir semua pekerjaan mengalami digitalisasi.

Staf administrasi menggunakan aplikasi.

Akuntan menggunakan perangkat lunak.

Pemasar menggunakan platform digital.

Pedagang menggunakan sistem pembayaran digital.

Guru menggunakan berbagai perangkat pembelajaran.

Petugas lapangan menggunakan aplikasi.

Karena itu, literasi digital semakin menjadi kemampuan dasar.

Namun literasi digital bukan berarti harus menguasai semua teknologi.

Yang lebih penting adalah:

mampu menggunakan teknologi yang relevan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Lalu, Apa yang Dicari Perusahaan?

Jika disederhanakan, perusahaan biasanya ingin mengetahui lima hal besar dari seorang kandidat.

1. Bisa mengerjakan pekerjaan

Ini adalah dasar.

Jika perusahaan membutuhkan analis data, kandidat harus memiliki kemampuan analisis data.

Jika membutuhkan tenaga pemasaran, kandidat harus memahami pemasaran.

2. Bisa menghasilkan sesuatu

Bukan hanya mengetahui teori, tetapi mampu menghasilkan pekerjaan.

3. Bisa bekerja dengan orang lain

Kemampuan komunikasi dan kerja sama sangat penting.

4. Bisa menghadapi masalah

Perusahaan pasti menghadapi masalah.

Mereka membutuhkan orang yang tidak langsung berhenti ketika masalah muncul.

5. Bisa belajar

Kebutuhan perusahaan dapat berubah.

Karena itu kandidat yang mampu mempelajari sesuatu yang baru mempunyai nilai lebih.

Perusahaan Juga Mencari “Orang yang Tepat”, Bukan Sekadar “Orang Pintar”

Ada perbedaan antara pintar dan cocok.

Seorang lulusan S2 bisa sangat pintar secara akademik.

Tetapi jika posisi yang tersedia membutuhkan kemampuan praktis tertentu yang tidak dimilikinya, perusahaan mungkin memilih kandidat lain.

Begitu pula sebaliknya.

Seorang kandidat dengan pendidikan yang tidak setinggi kandidat lain dapat diterima jika kompetensinya sangat sesuai dengan pekerjaan.

Karena itu, pencari kerja perlu memahami konsep:

job fit.

Sederhananya, seberapa cocok kemampuan seseorang dengan kebutuhan pekerjaan.

Semakin dekat kecocokan tersebut, semakin mudah perusahaan melihat alasan untuk merekrutnya.

Mengapa S2 dan S3 Juga Bisa Menganggur?

Gelar yang lebih tinggi tidak otomatis menghilangkan persoalan mismatch.

S2 dan S3 biasanya memperdalam bidang tertentu.

Namun pasar kerja mungkin membutuhkan kemampuan yang berbeda atau membutuhkan jumlah tenaga kerja yang lebih sedikit.

Contohnya, seseorang dapat memiliki spesialisasi akademik yang sangat tinggi, tetapi hanya sedikit posisi pekerjaan yang membutuhkan spesialisasi tersebut.

Akibatnya muncul situasi:

pendidikan semakin tinggi, tetapi pilihan pekerjaan justru semakin sempit.

Ini tidak berarti pendidikan lanjut tidak berguna.

Justru pendidikan lanjut sangat penting untuk profesi, riset, akademik, dan bidang yang membutuhkan spesialisasi.

Tetapi seseorang harus memahami untuk apa gelar tersebut diperoleh dan pasar kerja mana yang dituju.

Jangan Sampai Kuliah Hanya Menghasilkan Ijazah

Ini menjadi pelajaran penting bagi mahasiswa.

Kuliah seharusnya tidak hanya menghasilkan ijazah.

Selama kuliah, seseorang idealnya juga mengumpulkan:

pengetahuan + keterampilan + pengalaman + jaringan + portofolio.

Bayangkan dua lulusan.

Yang pertama mempunyai ijazah.

Yang kedua mempunyai ijazah, pengalaman magang, beberapa proyek, sertifikat kompetensi, jaringan profesional, dan portofolio.

Keduanya sama-sama sarjana.

Tetapi ketika masuk ke pasar kerja, mereka membawa modal yang berbeda.

Ada Masalah yang Tidak Bisa Dibebankan kepada Lulusan

Namun jangan pula seluruh persoalan dibebankan kepada pencari kerja.

Jika lapangan kerja formal tumbuh lebih lambat daripada jumlah lulusan baru, persaingan memang akan semakin berat.

Kemnaker juga menyebut pertumbuhan lapangan kerja formal yang lambat sebagai faktor lain di balik tingginya pengangguran terdidik.

Dengan demikian, solusi tidak cukup hanya:

“Anak muda harus meningkatkan skill.”

Pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan perusahaan juga harus memperkecil jarak antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja.

Perguruan tinggi perlu memahami perubahan industri.

Industri perlu membuka lebih banyak ruang pembelajaran bagi talenta muda.

Pemerintah perlu memperkuat informasi pasar kerja dan pelatihan.

Dan mahasiswa perlu lebih aktif mempersiapkan diri.

Yang Dicari Perusahaan Bisa Berubah Setiap Saat

Inilah alasan mengapa memilih satu keterampilan lalu berhenti belajar bukan strategi yang aman.

Pekerjaan berubah.

Peralatan berubah.

Sistem berubah.

Model bisnis berubah.

Kebutuhan pelanggan berubah.

Akibatnya, keterampilan yang sangat berharga hari ini bisa menjadi kemampuan dasar beberapa tahun mendatang.

Karena itu, kemampuan belajar menjadi semakin penting.

Orang yang mampu berkata:

“Saya belum bisa, tetapi saya tahu bagaimana cara mempelajarinya.”

dapat memiliki keunggulan dibandingkan orang yang hanya mengandalkan kemampuan yang sudah dimilikinya.

Jadi, Haruskah Semua Sarjana Menjadi Multitalenta?

Tidak.

Ini juga penting.

Pencari kerja tidak harus menguasai semuanya.

Yang lebih masuk akal adalah memiliki satu kemampuan utama yang kuat, kemudian ditambah beberapa kemampuan pendukung.

Misalnya:

Desainer

  • komunikasi
  • pemasaran digital
  • presentasi

Akuntan

  • analisis data
  • teknologi
  • komunikasi bisnis

Pemasar

  • data
  • komunikasi
  • kreativitas

Guru

  • teknologi pendidikan
  • komunikasi
  • pengelolaan kelas

Jadi bukan:

“Saya harus bisa semuanya.”

Tetapi:

“Saya harus punya keahlian utama dan mampu menggunakannya bersama keterampilan lain.”

Bagaimana Lulusan S1–S3 Harus Membaca Situasi Ini?

Ada tiga pertanyaan yang sebaiknya mulai ditanyakan.

Pertama

Apa pekerjaan yang ingin saya dapatkan?

Jangan berhenti pada nama jabatan.

Cari tahu tugasnya.

Kedua

Kemampuan apa yang dibutuhkan pekerjaan tersebut?

Bandingkan dengan kemampuan yang dimiliki.

Ketiga

Apa bukti bahwa saya memiliki kemampuan tersebut?

Jika belum ada bukti, mulai membuatnya.

Inilah cara mengubah pencarian kerja dari sekadar mengirim CV menjadi proses membangun nilai diri.

Kesimpulan: Perusahaan Tidak Mencari Gelar, Perusahaan Mencari Nilai

Lebih dari satu juta penganggur berlatar belakang pendidikan tinggi menjadi pengingat bahwa gelar akademik tidak otomatis menghilangkan persaingan kerja.

BPS mencatat 1.033.182 penganggur dari kelompok pendidikan Diploma IV hingga S3 pada Mei 2026. Kemnaker menilai skill mismatch, rendahnya literasi digital dan soft skills, serta lambatnya pertumbuhan lapangan kerja formal menjadi bagian penting dari persoalan tersebut.

Namun angka itu seharusnya tidak membuat anak muda berpikir:

“Berarti kuliah tidak ada gunanya.”

Kesimpulannya justru berbeda.

Kuliah tetap penting. Tetapi kuliah harus menghasilkan lebih dari ijazah.

Di pasar kerja 2026, perusahaan semakin membutuhkan orang yang dapat menunjukkan:

Saya tahu.

Saya bisa.

Saya pernah mengerjakan.

Ini hasilnya.

Dan yang paling penting:

Saya siap belajar ketika pekerjaan berubah.

Karena pada akhirnya, gelar mungkin membuat seseorang masuk ke dalam daftar kandidat.

Tetapi kompetensi, pengalaman, sikap, dan bukti kemampuanlah yang membuat perusahaan punya alasan untuk memilihnya.

Sumber

  • BPS, data ketenagakerjaan Indonesia Mei 2026.
  • ANTARA, pernyataan Kemnaker mengenai skill mismatch dan pengangguran terdidik.
  • BPS melalui data Sakernas Mei 2026 yang menunjukkan 1.033.182 penganggur dari kelompok pendidikan D4–S3.
  • ANTARA, perkembangan kebijakan ketenagakerjaan dan hubungan kompetensi dengan kebutuhan industri.

Penulis

Redaksi Loekepo merupakan tim editorial yang menyajikan berita, informasi, edukasi, dan liputan terpercaya dari berbagai kategori, mulai dari nasional, internasional, teknologi, pendidikan, gaya hidup, hingga topik khusus. Setiap artikel disusun berdasarkan sumber yang kredibel dan melalui proses penyuntingan sebelum dipublikasikan.

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less