Kepo Sejarah Indonesia
light_mode
Kepo Trending
Beranda » Utama » Usaha & Wirausaha » Modal Tinggal Sedikit: Apa yang Harus Dilakukan Agar Usaha Tidak Mati?

Modal Tinggal Sedikit: Apa yang Harus Dilakukan Agar Usaha Tidak Mati?

  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • visibility 13
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sobat Kepo, ketika modal usaha tinggal sedikit, keputusan paling berbahaya justru bisa muncul karena panik. Pemilik usaha tergoda menambah utang, membeli stok baru, memperbesar promosi, atau memasukkan seluruh uang pribadi tanpa terlebih dahulu mencari tahu ke mana sebenarnya uang usaha mengalir.

Padahal, ketika kas mulai menipis, tujuan pertama bukan membuat usaha terlihat besar kembali.

Tujuan pertama adalah membuat usaha tetap hidup sambil mencari cara agar arus kas kembali sehat.

Kondisi kekurangan modal bukan persoalan yang jarang terjadi. Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Profil Industri Mikro dan Kecil 2024 menyebut keterbatasan akses dan modal sebagai salah satu tantangan yang masih dihadapi industri mikro dan kecil di Indonesia. Publikasi tersebut juga memuat data mengenai pendapatan, pengeluaran, permodalan, kesulitan usaha, pemasaran, dan karakteristik usaha lainnya.

Artinya, ketika modal menipis, pemilik usaha tidak cukup hanya bertanya, “Dari mana mendapatkan uang lagi?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Bagaimana memastikan uang yang tersisa tidak habis untuk masalah yang sama?”

Jangan langsung mencari modal baru

Ketika uang usaha hampir habis, pinjaman sering terlihat sebagai solusi paling cepat.

Namun tambahan modal hanya akan membantu jika masalah utama memang kekurangan modal.

Bayangkan sebuah usaha membutuhkan Rp5 juta per bulan untuk beroperasi, tetapi hanya menghasilkan Rp3 juta. Jika pemilik usaha meminjam Rp20 juta tanpa mengubah model bisnis, uang tersebut pada akhirnya hanya menjadi bahan bakar untuk mempertahankan kerugian.

Setelah beberapa bulan, modal habis dan utang tetap ada.

Karena itu, sebelum mencari modal baru, lakukan diagnosis usaha.

Cari tahu apakah masalah utama berasal dari:

  • penjualan yang turun;
  • harga jual terlalu rendah;
  • margin terlalu tipis;
  • stok terlalu banyak;
  • biaya operasional terlalu tinggi;
  • pelanggan tidak kembali;
  • promosi tidak menghasilkan transaksi;
  • piutang terlalu lama tertagih;
  • atau kombinasi beberapa masalah sekaligus.

BPS juga mencatat bahwa persoalan permodalan dan pemasaran termasuk kesulitan yang dihadapi usaha mikro dan kecil. Data tersebut menunjukkan bahwa masalah usaha tidak selalu berdiri sendiri; keterbatasan modal dapat berjalan bersamaan dengan persoalan pemasaran dan operasional.

Hitung berapa uang yang benar-benar tersisa

Jangan menggunakan perkiraan.

Buka rekening, catatan kas, dompet usaha, stok, dan seluruh kewajiban.

Kemudian pisahkan menjadi empat kelompok.

1. Uang tunai

Hitung:

  • saldo rekening usaha;
  • uang tunai di kas;
  • uang yang benar-benar bisa ditarik untuk operasional.

Jangan memasukkan uang yang sebenarnya milik pribadi atau dana yang sudah dialokasikan untuk kebutuhan lain.

2. Stok

Hitung nilai barang yang masih bisa dijual.

Namun jangan menganggap seluruh stok sebagai uang tunai.

Stok senilai Rp10 juta belum tentu bisa berubah menjadi Rp10 juta dalam waktu dekat.

Jika barang sulit terjual, nilai ekonominya jauh lebih rendah daripada angka yang tercatat di pembukuan.

3. Piutang

Catat siapa yang masih memiliki kewajiban membayar kepada usaha.

Kemudian pisahkan antara:

  • piutang yang hampir pasti dibayar;
  • piutang yang terlambat;
  • dan piutang yang berisiko tidak tertagih.

4. Kewajiban

Catat seluruh kewajiban:

  • utang pemasok;
  • cicilan;
  • sewa;
  • gaji;
  • listrik;
  • pajak;
  • tagihan platform;
  • dan kewajiban lainnya.

Setelah semuanya dicatat, pemilik usaha akan mendapatkan gambaran yang jauh lebih realistis mengenai kondisi sebenarnya.

Berapa lama usaha masih bisa bertahan?

Salah satu angka terpenting ketika modal menipis adalah runway, atau berapa lama usaha mampu bertahan dengan kas yang tersedia.

Contoh sederhana:

Kas tersedia: Rp6 juta

Biaya operasional minimum: Rp3 juta per bulan

Jika usaha tidak menghasilkan pemasukan sama sekali, kas tersebut secara matematis hanya mampu membiayai sekitar dua bulan operasional.

Namun jangan berhenti pada angka tersebut.

Jika usaha masih menghasilkan Rp1 juta per bulan setelah biaya tertentu, kemampuan bertahannya menjadi berbeda.

Karena itu, hitung berdasarkan arus kas aktual, bukan hanya omzet.

Pemerintah juga menekankan pentingnya pengelolaan keuangan bagi pelaku UMKM. Kementerian UMKM melalui SMEsta menyebut pencatatan pemasukan dan pengeluaran penting agar pelaku usaha mengetahui biaya operasional, keuntungan, dan modal yang digunakan.

Saat modal sedikit, fokus pada produk yang paling menghasilkan

Kesalahan yang sering terjadi adalah mencoba menjual semakin banyak produk ketika uang semakin sedikit.

Padahal, terlalu banyak produk berarti semakin banyak uang yang tertahan dalam stok.

Misalnya sebuah usaha makanan memiliki 30 menu.

Jika hanya lima menu yang menyumbang sebagian besar penjualan, mempertahankan seluruh menu mungkin justru membebani:

  • stok bahan baku;
  • tempat penyimpanan;
  • tenaga kerja;
  • waktu produksi;
  • dan modal kerja.

Dalam kondisi normal, variasi produk mungkin membantu.

Tetapi ketika modal kritis, kesederhanaan bisa menjadi strategi bertahan.

Cari produk yang memenuhi tiga syarat:

  1. banyak dicari pelanggan;
  2. margin masih masuk akal;
  3. modal berputarnya cepat.

Produk seperti itulah yang sebaiknya mendapatkan prioritas.

Jangan membeli stok hanya karena harga sedang murah

Ini jebakan yang sering terjadi pada usaha kecil.

Pemasok memberikan diskon.

Pemilik usaha berpikir:

“Mumpung murah, sekalian stok banyak.”

Padahal uang kas sedang kritis.

Diskon tidak berarti menguntungkan jika barang tersebut membutuhkan waktu lama untuk terjual.

Dalam kondisi modal terbatas, kecepatan perputaran uang lebih penting daripada sekadar mendapatkan harga beli murah.

Lebih baik memperoleh margin sedikit lebih kecil tetapi uang kembali dengan cepat daripada memperoleh margin besar atas barang yang tersimpan berbulan-bulan.

Hentikan pengeluaran yang tidak menghasilkan penjualan

Ketika modal mulai menipis, setiap pengeluaran harus memiliki alasan.

Bukan berarti semua biaya harus dipotong.

Biaya yang membantu menghasilkan pendapatan tetap harus dipertahankan.

Yang perlu dihentikan adalah pengeluaran yang tidak memberikan manfaat sebanding.

Contohnya:

  • langganan aplikasi yang tidak digunakan;
  • dekorasi baru;
  • renovasi yang belum mendesak;
  • stok yang tidak terbukti laku;
  • promosi tanpa pengukuran;
  • peralatan yang belum diperlukan;
  • dan pengeluaran gaya hidup yang dibebankan kepada usaha.

Buat aturan sederhana:

Jika pengeluaran tidak membantu menjaga operasi, menghasilkan penjualan, atau memenuhi kewajiban penting, tunda terlebih dahulu.

Jangan campurkan uang usaha dengan uang rumah tangga

Ini salah satu penyebab usaha terlihat selalu kekurangan modal.

Hari ini uang hasil penjualan digunakan untuk belanja rumah.

Besok uang usaha digunakan membayar kebutuhan pribadi.

Kemudian pemilik merasa modal usaha kurang dan memasukkan uang baru.

Siklus tersebut membuat kondisi usaha sulit dibaca.

Pisahkan rekening dan kas usaha dari kebutuhan pribadi semampunya.

Jika pemilik mengambil uang dari usaha untuk kebutuhan pribadi, catat sebagai pengambilan pribadi.

Dengan begitu, pemilik bisa mengetahui apakah usaha benar-benar menghasilkan uang atau hanya terlihat berputar karena terus mendapatkan suntikan dana pribadi.

Cari uang dari aset yang sudah dimiliki

Ketika modal baru tidak tersedia, jangan langsung berpikir bahwa usaha harus berhenti.

Lihat kembali aset yang sudah dimiliki.

Aset tidak selalu berupa uang.

Bisa berupa:

  • keahlian;
  • pelanggan lama;
  • jaringan pemasok;
  • kendaraan;
  • peralatan;
  • tempat usaha;
  • akun media sosial;
  • database pelanggan;
  • pengalaman;
  • kemampuan memasak;
  • kemampuan desain;
  • kemampuan menjahit;
  • kemampuan memperbaiki barang;
  • atau pengetahuan tertentu.

Pertanyaannya berubah dari:

“Saya harus mencari modal dari mana?”

menjadi:

“Apa yang sudah saya punya yang bisa menghasilkan uang lebih cepat?”

Perubahan cara berpikir tersebut penting ketika usaha sedang berada dalam kondisi kritis.

Ubah stok menjadi uang, bukan sekadar memenuhi gudang

Jika kas menipis sementara stok menumpuk, prioritasnya adalah mempercepat perputaran stok.

Beberapa cara yang dapat dipertimbangkan:

  • membuat paket bundling;
  • memberikan potongan untuk produk yang lambat bergerak;
  • menawarkan paket dengan produk terlaris;
  • membuka penjualan langsung;
  • menghubungi pelanggan lama;
  • menawarkan produk kepada pelanggan korporasi;
  • atau menggunakan kanal penjualan yang selama ini belum dimaksimalkan.

Namun jangan memberikan diskon secara membabi buta.

Hitung terlebih dahulu harga pokok dan margin.

Tujuannya bukan sekadar “barang habis”, melainkan mengubah stok menjadi kas dengan kerugian yang masih dapat dikendalikan.

Hubungi pelanggan lama sebelum mencari pelanggan baru

Ketika modal promosi terbatas, pelanggan lama bisa menjadi aset yang sangat penting.

Mereka sudah mengenal produk.

Mereka tidak membutuhkan edukasi sebanyak pelanggan baru.

Hubungi mereka secara wajar dengan penawaran yang relevan.

Misalnya:

“Kami sedang menyiapkan paket khusus untuk pelanggan yang pernah membeli sebelumnya.”

Bukan spam.

Bukan mengirim pesan setiap hari.

Yang dicari adalah transaksi yang realistis dengan biaya akuisisi rendah.

Jangan menghabiskan uang untuk promosi yang belum terbukti

Promosi memang penting.

Namun dalam kondisi modal kritis, promosi harus lebih terukur.

Jangan sekadar berkata:

“Kita harus iklan lebih banyak.”

Pertanyaan yang lebih tepat:

Berapa rupiah yang dikeluarkan dan berapa penjualan yang dihasilkan?

Jika promosi Rp500.000 menghasilkan penjualan Rp1 juta tetapi margin hanya Rp200.000, promosi tersebut belum tentu menguntungkan.

Sebaliknya, jika promosi kecil menghasilkan pelanggan yang melakukan pembelian berulang, nilainya bisa lebih besar.

Karena itu, ukur:

biaya promosi → jumlah pelanggan → nilai transaksi → margin → pembelian ulang.

Pertimbangkan mengubah cara menjual

Ketika modal kecil, jangan selalu memaksa model bisnis lama.

Misalnya:

Dari stok besar → pre-order

Dari toko penuh → pesanan online

Dari produksi setiap hari → produksi berdasarkan pesanan

Dari menjual satuan → paket

Dari pelanggan umum → pelanggan komunitas atau korporasi

Dari menjual produk → menjual jasa

Perubahan tersebut dapat mengurangi uang yang harus tertahan dalam operasional.

Prinsipnya sederhana:

Semakin sedikit modal yang tertahan sebelum uang kembali, semakin ringan tekanan terhadap cashflow.

Jangan menambah utang sebelum mengetahui untuk apa uang itu digunakan

Jika semua langkah di atas sudah dilakukan tetapi modal masih kurang, pembiayaan bisa menjadi salah satu pilihan.

Namun harus ada tujuan yang jelas.

OJK melalui POJK Nomor 19 Tahun 2025 mengatur kemudahan akses pembiayaan bagi UMKM dan menekankan bahwa kemudahan pembiayaan perlu disertai tata kelola serta manajemen risiko yang memadai. Regulasi tersebut juga mengatur agar skema pembiayaan dapat disesuaikan dengan karakteristik bisnis dan siklus usaha UMKM.

Bagi pemilik usaha, prinsip praktisnya adalah:

Jangan meminjam karena kas habis. Pinjamlah hanya jika sudah mengetahui bagaimana dana tersebut akan menghasilkan atau menjaga operasi secara terukur.

Contohnya berbeda.

Tidak sehat:

“Saya pinjam Rp20 juta supaya usaha tetap berjalan.”

Lebih terukur:

“Saya membutuhkan Rp20 juta untuk membeli bahan baku yang sudah memiliki pesanan Rp35 juta dengan margin yang telah dihitung.”

Yang kedua memiliki dasar keputusan yang jauh lebih jelas.

Buat aturan darurat selama 30 hari

Ketika modal benar-benar kritis, perlakukan usaha seperti berada dalam kondisi darurat.

Selama 30 hari:

Prioritaskan

  • penjualan;
  • pelanggan;
  • produk paling menguntungkan;
  • pembayaran wajib;
  • arus kas;
  • dan perputaran stok.

Tunda

  • ekspansi;
  • renovasi;
  • pembelian aset baru;
  • penambahan menu yang belum teruji;
  • pembukaan cabang;
  • dan pengeluaran yang tidak mendesak.

Ukur setiap hari

Catat:

  • uang masuk;
  • uang keluar;
  • penjualan;
  • produk terlaris;
  • stok;
  • utang;
  • dan kas akhir.

Tujuannya bukan membuat laporan keuangan yang rumit.

Tujuannya adalah mengetahui apa yang terjadi pada uang setiap hari.

Bagaimana jika modal sudah hampir habis?

Jika uang tersisa hanya cukup untuk beberapa minggu, jangan menunggu sampai benar-benar nol.

Segera buat tiga skenario.

Skenario A — Bertahan

Berapa uang minimum yang diperlukan agar usaha tetap berjalan?

Apa yang harus dipotong?

Berapa penjualan minimum yang harus dicapai?

Skenario B — Diperkecil

Apakah usaha bisa berjalan dengan:

  • tempat lebih kecil;
  • jam operasional lebih pendek;
  • lebih sedikit karyawan;
  • lebih sedikit produk;
  • atau sistem pre-order?

Skenario C — Dihentikan

Jika dua skenario sebelumnya tidak realistis, hitung bagaimana menghentikan usaha dengan kerugian paling kecil.

Misalnya:

  • menjual aset;
  • menghabiskan stok;
  • menyelesaikan kewajiban;
  • menegosiasikan pembayaran;
  • dan memindahkan pelanggan ke usaha berikutnya.

Menutup skala operasi tidak selalu berarti menghentikan kemampuan menghasilkan uang.

Jangan menyelamatkan gengsi dengan uang terakhir

Ini mungkin menjadi keputusan paling sulit.

Pemilik usaha bisa merasa:

“Kalau saya berhenti sekarang, berarti saya gagal.”

Padahal, bisnis adalah sistem ekonomi.

Ia harus menghasilkan lebih banyak nilai daripada biaya yang dikeluarkan dalam jangka yang masuk akal.

Jika sebuah usaha tidak lagi memiliki jalan yang realistis untuk mencapai kondisi tersebut, mempertahankannya demi gengsi dapat menghabiskan sumber daya yang seharusnya digunakan untuk memulai kembali.

Modal yang tersisa harus digunakan untuk menyelamatkan masa depan, bukan mempertahankan masa lalu.

Lima pertanyaan sebelum mengeluarkan uang lagi

Sebelum mengeluarkan uang satu rupiah pun, jawab lima pertanyaan berikut:

1. Uang ini digunakan untuk apa?

Harus spesifik.

2. Apakah pengeluaran ini menghasilkan penjualan atau menjaga operasi penting?

Jika tidak, pertimbangkan untuk menundanya.

3. Berapa lama uang ini kembali?

Semakin jelas semakin baik.

4. Apa yang terjadi jika penjualan tidak naik?

Buat skenario terburuk.

5. Apakah usaha bisa bertahan tanpa uang tambahan?

Jika jawabannya tidak, cari tahu mengapa.

Jika setelah menjawab lima pertanyaan tersebut tambahan modal tetap masuk akal, barulah pertimbangkan sumber pembiayaan yang sesuai kemampuan.

Modal sedikit bukan berarti kesempatan sudah habis

Bagi usaha kecil, masa ketika modal menipis memang sangat berat.

Namun kondisi tersebut juga memaksa pemilik usaha melihat bisnis secara lebih jujur.

Tidak ada ruang untuk stok yang tidak bergerak.

Tidak ada ruang untuk biaya yang tidak perlu.

Tidak ada ruang untuk keputusan berdasarkan gengsi.

Yang tersisa adalah pertanyaan paling penting:

Apa yang benar-benar menghasilkan uang?

Dari sana, pemilik usaha dapat menentukan apakah bisnis perlu diperkecil, diubah, dibiayai kembali, atau dihentikan.

BPS menempatkan keterbatasan modal sebagai salah satu tantangan yang masih dihadapi industri mikro dan kecil. Pada saat yang sama, data BPS menunjukkan bahwa karakteristik usaha mikro dan kecil sangat beragam sehingga strategi penyelamatannya tidak bisa dibuat dengan satu resep untuk semua usaha.

Karena itu, ketika modal tinggal sedikit, jangan buru-buru menyerah dan jangan buru-buru berutang.

Berhenti sejenak.

Hitung uang yang tersisa.

Cari sumber kebocoran.

Fokuskan produk.

Percepat perputaran kas.

Hubungi pelanggan yang sudah ada.

Potong biaya yang tidak penting.

Baru setelah itu tentukan apakah usaha memang membutuhkan modal baru.

Kadang-kadang yang dibutuhkan usaha yang hampir kehabisan modal bukan uang yang lebih banyak, melainkan cara menggunakan uang yang tersisa dengan jauh lebih tepat.

FAQ

Apakah usaha dengan modal kecil masih bisa bertahan?

Bisa, selama model usahanya masih memiliki permintaan dan mampu menghasilkan margin yang memadai. Besarnya modal bukan satu-satunya penentu keberlangsungan usaha.

Apa yang harus dilakukan jika modal usaha hampir habis?

Hitung kas yang tersisa, kewajiban, stok, dan arus kas. Setelah itu prioritaskan pengeluaran yang benar-benar penting, fokus pada produk yang menghasilkan, percepat penjualan dan perputaran stok, serta hentikan pengeluaran yang tidak mendesak.

Apakah harus meminjam uang ketika modal usaha habis?

Tidak selalu. Pinjaman sebaiknya dipertimbangkan setelah penyebab kekurangan modal diketahui dan terdapat rencana penggunaan dana yang jelas. Jika usaha terus merugi karena model bisnisnya bermasalah, utang baru dapat memperbesar tekanan keuangan.

Bagaimana cara bertahan tanpa menambah modal?

Beberapa pilihan antara lain mengurangi biaya, menjual stok yang masih tersedia, mempercepat penagihan piutang, menawarkan produk kepada pelanggan lama, menggunakan sistem pre-order, memfokuskan penjualan pada produk dengan perputaran cepat, dan memanfaatkan aset atau keterampilan yang sudah dimiliki.

Kapan usaha perlu diperkecil?

Usaha dapat dipertimbangkan untuk diperkecil ketika biaya operasional terlalu besar dibandingkan kemampuan penjualan, tetapi masih terdapat pelanggan atau produk yang memiliki potensi. Pengurangan menu, stok, jam operasional, tempat, atau biaya tetap dapat menjadi bagian dari strategi tersebut.

Apakah menjual aset usaha berarti gagal?

Tidak. Jika aset yang tidak produktif dapat diubah menjadi kas dan membantu mengurangi kerugian, penjualan aset bisa menjadi bagian dari strategi penyelamatan usaha.

Sumber:
Badan Pusat Statistik, Profil Industri Mikro dan Kecil 2024.
Kementerian UMKM Republik Indonesia melalui SMEsta.
Otoritas Jasa Keuangan, POJK Nomor 19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.
Otoritas Jasa Keuangan, Siaran Pers POJK Nomor 19 Tahun 2025.

Penulis

Redaksi Loekepo merupakan tim editorial yang menyajikan berita, informasi, edukasi, dan liputan terpercaya dari berbagai kategori, mulai dari nasional, internasional, teknologi, pendidikan, gaya hidup, hingga topik khusus. Setiap artikel disusun berdasarkan sumber yang kredibel dan melalui proses penyuntingan sebelum dipublikasikan.

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less