S1, S2, S3 Menganggur: Apa yang Dicari Perusahaan?
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 22
- comment 0 komentar
- print Cetak

Lulusan perguruan tinggi menghadapi persaingan kerja yang semakin menuntut keterampilan, pengalaman, portofolio, dan kemampuan beradaptasi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Loekepo.com — Ada satu anggapan yang selama bertahun-tahun hidup di tengah masyarakat: semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah ia mendapatkan pekerjaan.
Namun data terbaru menunjukkan kenyataan yang lebih rumit.
Pada Mei 2026, terdapat 1.033.182 orang penganggur dengan latar belakang pendidikan Diploma IV, S1, S2, hingga S3 di Indonesia. Jumlah tersebut mencapai sekitar 14,31 persen dari total 7,22 juta penganggur nasional.
Angka itu memunculkan pertanyaan yang tidak nyaman:
Kalau gelar S1, S2, bahkan S3 belum menjamin pekerjaan, sebenarnya perusahaan mencari apa?
Jawabannya ternyata bukan sekadar gelar.
Bukan Berarti Perusahaan Tidak Membutuhkan Sarjana
Hal pertama yang perlu diluruskan adalah: tingginya pengangguran lulusan perguruan tinggi bukan berarti perusahaan tidak membutuhkan orang berpendidikan tinggi.
Justru banyak pekerjaan membutuhkan pendidikan tinggi sebagai persyaratan dasar.
Persoalannya adalah jumlah orang berpendidikan tinggi terus bertambah, sementara pekerjaan yang tersedia tidak selalu membutuhkan kombinasi kompetensi yang sama.
Di sinilah terjadi persaingan.
Ketika 100 orang memiliki gelar yang sama untuk memperebutkan 10 posisi, perusahaan harus mencari pembeda lain.
Maka pertanyaan bergeser dari:
“Anda lulusan apa?”
menjadi:
“Apa yang bisa Anda kerjakan?”
Satu Juta Penganggur Terdidik dan Masalah Skill Mismatch
Kementerian Ketenagakerjaan menilai skill mismatch atau ketidaksesuaian antara kompetensi tenaga kerja dan kebutuhan dunia usaha serta industri menjadi salah satu faktor utama tingginya pengangguran terdidik.
Kemnaker juga menyoroti rendahnya literasi digital dan soft skills, selain pertumbuhan lapangan kerja formal yang belum cukup cepat dibandingkan pertambahan lulusan baru perguruan tinggi.
Artinya, seseorang bisa memiliki pendidikan yang tinggi tetapi tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan karena kompetensinya tidak sepenuhnya sesuai dengan posisi yang tersedia.
Contohnya sederhana.
Sebuah perusahaan membutuhkan staf pemasaran yang mampu membaca data penjualan, mengelola kampanye digital, membuat laporan, dan berkomunikasi dengan pelanggan.
Ada seorang lulusan S1 pemasaran yang memahami teori pemasaran.
Tetapi ada kandidat lain yang juga lulusan S1 dan pernah mengelola kampanye digital untuk sebuah usaha, membuat laporan hasil kampanye, serta memiliki portofolio.
Kandidat kedua memiliki bukti penerapan kemampuan.
Di situlah perbedaannya.
Perusahaan Tidak Hanya Membeli Ijazah
Ijazah pada dasarnya memberikan informasi tentang latar belakang pendidikan seseorang.
Namun perusahaan merekrut seseorang untuk mengerjakan pekerjaan tertentu.
Perbedaan ini sering luput dari perhatian pencari kerja.
Perusahaan tidak membayar seseorang karena memiliki gelar S1.
Perusahaan membayar seseorang karena ia dapat menjalankan tugas yang dibutuhkan perusahaan.
Gelar dapat menjadi tiket masuk.
Tetapi setelah masuk ke tahap seleksi, pertanyaan yang muncul bisa berubah menjadi:
- Apakah kandidat memahami pekerjaan?
- Apakah ia memiliki keterampilan teknis?
- Apakah ia bisa berkomunikasi?
- Apakah ia mampu menyelesaikan masalah?
- Apakah ia bisa bekerja dalam tim?
- Apakah ia mampu belajar hal baru?
- Apakah pengalaman yang dimilikinya relevan?
Karena itu, memiliki gelar yang sama dengan kandidat lain belum tentu membuat peluangnya sama.
IPK Tinggi Belum Tentu Menjadi Pembeda
IPK tetap dapat menjadi salah satu indikator kemampuan akademik.
Tetapi ketika banyak kandidat memiliki nilai akademik yang relatif sama, perusahaan membutuhkan indikator tambahan.
Misalnya:
Kandidat A
S1 Manajemen, IPK 3,80.
Kandidat B
S1 Manajemen, IPK 3,40, pernah magang enam bulan, memiliki pengalaman mengelola proyek pemasaran, dan membawa portofolio.
Untuk posisi yang membutuhkan pengalaman praktis, kandidat B bisa saja lebih menarik.
Bukan karena IPK tidak penting.
Tetapi karena pekerjaan membutuhkan kemampuan yang lebih luas daripada kemampuan mengerjakan ujian.
Pengalaman Menjadi Mata Uang Baru
Inilah salah satu alasan fresh graduate sering berada dalam posisi sulit.
Perusahaan membutuhkan pengalaman.
Lulusan baru belum memiliki pengalaman.
Akibatnya muncul lingkaran:
Tidak punya pengalaman → sulit diterima → tidak bisa mendapatkan pengalaman → semakin sulit diterima.
Lingkaran tersebut sebenarnya bisa diputus sebelum seseorang mendapatkan pekerjaan tetap.
Pengalaman dapat dibangun melalui:
- magang;
- proyek kampus;
- freelance;
- organisasi;
- penelitian;
- proyek pribadi;
- pekerjaan paruh waktu;
- usaha kecil;
- kegiatan sosial;
- atau membantu bisnis keluarga.
Yang penting bukan hanya status pekerjaannya.
Yang penting adalah apa yang pernah dikerjakan dan apa hasilnya.
Portofolio Bisa Mengubah Cara Perusahaan Melihat Fresh Graduate
Bayangkan dua orang melamar posisi desain grafis.
Pelamar pertama menulis di CV:
“Menguasai desain grafis.”
Pelamar kedua menulis:
“Membuat 25 materi promosi untuk tiga UMKM selama enam bulan.”
Kemudian ia menunjukkan hasil desainnya.
Mana yang lebih mudah dinilai?
Tentu kandidat kedua.
Perusahaan tidak perlu hanya mempercayai klaim.
Ada bukti yang bisa dilihat.
Prinsip yang sama berlaku untuk berbagai profesi.
Lulusan akuntansi dapat menunjukkan proyek pembukuan.
Lulusan pemasaran dapat menunjukkan kampanye yang pernah dibuat.
Lulusan teknik dapat menunjukkan proyek teknis.
Lulusan komunikasi dapat menunjukkan tulisan, produksi konten, atau proyek komunikasi.
Lulusan teknologi dapat menunjukkan hasil proyek.
Portofolio mengubah kalimat “saya bisa” menjadi “ini yang pernah saya kerjakan.”
Soft Skills yang Sering Dianggap Sepele
Ada kemampuan lain yang tidak selalu terlihat di ijazah.
Misalnya kemampuan berkomunikasi.
Seorang karyawan mungkin memiliki kemampuan teknis yang bagus, tetapi jika tidak mampu menjelaskan pekerjaannya kepada atasan atau pelanggan, kemampuan tersebut bisa kehilangan nilai.
Begitu pula dengan kerja sama.
Perusahaan bukan ruang ujian.
Pekerjaan dilakukan bersama orang lain.
Karena itu perusahaan juga membutuhkan orang yang mampu:
- menerima arahan;
- memberikan pendapat;
- menerima kritik;
- menyelesaikan konflik;
- mengatur waktu;
- bertanggung jawab;
- dan menjaga komunikasi.
Kemnaker sendiri menyoroti soft skills sebagai salah satu bagian dari persoalan kompetensi tenaga kerja terdidik.
Penulis Redaksi Loekepo
Redaksi Loekepo merupakan tim editorial yang menyajikan berita, informasi, edukasi, dan liputan terpercaya dari berbagai kategori, mulai dari nasional, internasional, teknologi, pendidikan, gaya hidup, hingga topik khusus. Setiap artikel disusun berdasarkan sumber yang kredibel dan melalui proses penyuntingan sebelum dipublikasikan.
