Sudah Sarjana, Kok Masih Sulit Kerja? Ini Penyebabnya
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 38
- comment 0 komentar
- print Cetak

Cover Story Loekepo membahas tantangan lulusan sarjana dalam mendapatkan pekerjaan di tengah perubahan dunia kerja Indonesia pada 2026.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Loekepo.com — Gelar sarjana selama ini sering dianggap sebagai tiket menuju pekerjaan yang lebih baik. Namun, realitas pasar kerja Indonesia pada 2026 menunjukkan bahwa ijazah perguruan tinggi saja belum tentu cukup untuk membuat seseorang cepat diterima bekerja.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar “kuliah di jurusan apa?”, tetapi juga “kemampuan apa yang bisa ditawarkan setelah lulus?”
Fenomena ini penting diperhatikan karena jumlah orang yang masuk ke pasar kerja terus bertambah, sementara kebutuhan perusahaan juga berubah. Dunia kerja semakin membutuhkan kombinasi antara pendidikan, keterampilan praktis, pengalaman, kemampuan beradaptasi, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Data Terbaru: Pengangguran Indonesia Memang Menurun, tetapi Persaingan Tetap Berat
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah angkatan kerja Indonesia pada Mei 2026 mencapai 155,41 juta orang. Dari jumlah tersebut, 148,19 juta orang bekerja, sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di angka 4,65 persen.
TPT Mei 2026 turun tipis dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 4,68 persen. Namun, angka tersebut tetap berarti jutaan orang masih berada di luar pasar kerja. BPS juga mencatat rata-rata upah buruh pada Mei 2026 sebesar Rp3,39 juta per bulan.
Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata tidak ada pekerjaan.
Persoalannya adalah pekerjaan yang tersedia belum selalu bertemu dengan orang yang memiliki keterampilan dan pengalaman yang dibutuhkan.
Lulusan Perguruan Tinggi Juga Tidak Kebal dari Pengangguran
Data Sakernas Februari 2026 menunjukkan bahwa TPT kelompok pendidikan Diploma IV, S1, S2, dan S3 mencapai 6,13 persen. Angka tersebut memang bukan yang tertinggi—lulusan SMK berada di angka 7,74 persen—tetapi tetap menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari pengangguran.
Ini menjadi paradoks yang menarik.
Seseorang bisa menghabiskan empat tahun atau lebih untuk memperoleh gelar, tetapi setelah wisuda masih harus menghadapi pertanyaan:
“Pengalaman kerja kamu apa?”
Di sinilah persoalan mulai terlihat.
Ijazah dan Keterampilan Adalah Dua Hal yang Berbeda
Ijazah menunjukkan bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikan pada jenjang tertentu.
Namun perusahaan biasanya membutuhkan sesuatu yang lebih konkret: apa yang bisa dikerjakan oleh calon karyawan tersebut?
Seorang lulusan komunikasi, misalnya, mungkin memiliki IPK tinggi. Tetapi perusahaan bisa saja lebih tertarik kepada kandidat yang mampu:
- membuat strategi komunikasi;
- menulis artikel;
- mengelola media sosial;
- melakukan riset;
- membaca data;
- membuat presentasi;
- memahami perilaku konsumen;
- atau mengelola proyek.
Begitu pula lulusan ekonomi, teknik, hukum, pendidikan, maupun bidang lainnya.
Gelar membuka pintu. Keterampilan membantu seseorang masuk dan bertahan di dalamnya.
Masalah Berikutnya: Pengalaman Kerja
Banyak lulusan baru menghadapi lingkaran yang sulit diputus.
Perusahaan meminta pengalaman.
Lulusan baru belum memiliki pengalaman.
Karena belum memiliki pengalaman, mereka sulit diterima.
Karena sulit diterima, pengalaman tidak kunjung bertambah.
Karena itu, pengalaman tidak harus selalu dimulai dari pekerjaan tetap.
Magang, proyek kampus, pekerjaan lepas, organisasi, usaha kecil, proyek pribadi, pekerjaan sukarela, hingga portofolio dapat menjadi bukti bahwa seseorang pernah mengerjakan sesuatu secara nyata.
Hal tersebut juga menjadi salah satu alasan pemerintah terus mendorong program pemagangan bagi lulusan perguruan tinggi.
Pada Agustus 2026, Kementerian Pariwisata, misalnya, menerima 269 peserta Program Pemagangan Nasional. Program tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman kerja nyata, pendampingan mentor, peningkatan kompetensi, portofolio, serta jejaring profesional.
Pesannya cukup jelas:
pengalaman kerja semakin bernilai dalam proses masuk ke dunia profesional.
Mengapa Jurusan Kuliah Bisa Tidak Langsung Terhubung dengan Pekerjaan?
Salah satu persoalan yang sering muncul adalah mismatch, yaitu ketidaksesuaian antara pendidikan atau keterampilan seseorang dengan kebutuhan pekerjaan.
Dunia industri berubah jauh lebih cepat daripada perubahan kurikulum.
Pekerjaan baru muncul. Teknologi baru digunakan. Model bisnis berubah. Perusahaan membutuhkan kemampuan yang mungkin belum banyak diajarkan ketika seseorang mulai kuliah beberapa tahun sebelumnya.
Bappenas sendiri pada Agustus 2026 menekankan semakin pentingnya penguatan kapasitas matematika, sains, dan teknologi sebagai basis pembangunan dan peningkatan nilai tambah Indonesia.
Artinya, kebutuhan tenaga kerja ke depan kemungkinan semakin menuntut kemampuan untuk memahami teknologi, data, proses, dan pemecahan masalah.
Namun bukan berarti semua orang harus menjadi programmer.
Yang lebih penting adalah kemampuan untuk menggunakan teknologi sesuai bidang pekerjaan masing-masing.
Dunia Kerja Tidak Hanya Mencari Orang Pintar
Ini bagian yang sering disalahpahami.
Nilai akademik tetap penting, terutama untuk pekerjaan tertentu. Tetapi nilai akademik bukan satu-satunya ukuran.
Perusahaan juga dapat mempertimbangkan:
1. Kemampuan teknis
Apa yang benar-benar bisa dikerjakan?
2. Komunikasi
Apakah seseorang mampu menjelaskan ide dengan jelas?
3. Problem solving
Apakah ia mampu mencari jalan keluar ketika menghadapi masalah?
4. Adaptasi
Apakah ia mampu belajar ketika sistem dan pekerjaan berubah?
5. Kerja sama
Apakah ia mampu bekerja dengan orang lain?
6. Portofolio
Apa bukti bahwa kemampuan tersebut benar-benar pernah digunakan?
7. Sikap profesional
Apakah ia dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan menyelesaikan pekerjaan?
Karena itu, dua orang dengan ijazah dan jurusan yang sama belum tentu mempunyai peluang kerja yang sama.
Portofolio Bisa Menjadi “Ijazah Kedua”
Bagi pencari kerja, portofolio sering kali menjadi cara untuk menunjukkan kemampuan secara konkret.
Lulusan desain dapat menunjukkan hasil desain.
Lulusan jurnalistik dapat menunjukkan tulisan.
Lulusan pemasaran dapat menunjukkan kampanye yang pernah dibuat.
Lulusan teknologi dapat menunjukkan proyek.
Lulusan akuntansi dapat menunjukkan kemampuan mengolah laporan atau analisis data.
Bahkan lulusan yang belum pernah bekerja di perusahaan dapat membuat proyek pribadi.
Misalnya:
“Saya belum pernah bekerja sebagai digital marketer, tetapi saya pernah mengelola akun bisnis kecil selama enam bulan dan meningkatkan jumlah pelanggan dari 100 menjadi 250.”
Pernyataan seperti itu jauh lebih kuat daripada sekadar menulis:
“Saya memiliki kemampuan marketing.”
Bukti selalu lebih kuat daripada klaim.
Lalu, Skill Apa yang Sebaiknya Dipersiapkan?
Tidak ada satu daftar keterampilan yang berlaku untuk semua pekerjaan. Namun, ada kelompok kemampuan yang semakin penting hampir di berbagai bidang.
1. Literasi digital
Setidaknya seseorang harus mampu menggunakan perangkat dan aplikasi kerja secara efektif.
2. Pengolahan data
Kemampuan membaca tabel, grafik, angka, dan membuat kesimpulan menjadi semakin berguna.
3. Komunikasi
Kemampuan berbicara dan menulis tetap menjadi modal penting, bahkan ketika teknologi semakin maju.
4. Bahasa Inggris
Untuk pekerjaan yang berhubungan dengan perusahaan multinasional, teknologi, riset, pariwisata, maupun pekerjaan lintas negara, kemampuan bahasa Inggris dapat memperluas pilihan.
5. Kemampuan menggunakan teknologi
Bukan berarti semua orang harus menjadi ahli teknologi. Tetapi pekerja perlu memahami bagaimana teknologi dapat membantu pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien.
6. Problem solving
Perusahaan tidak hanya membutuhkan orang yang dapat mengikuti instruksi. Mereka juga membutuhkan orang yang dapat membantu menyelesaikan persoalan.
7. Kemampuan belajar
Ini mungkin justru menjadi keterampilan paling penting.
Karena apa yang dipelajari hari ini belum tentu menjadi satu-satunya kemampuan yang dibutuhkan lima tahun mendatang.
Penulis Redaksi Loekepo
Redaksi Loekepo merupakan tim editorial yang menyajikan berita, informasi, edukasi, dan liputan terpercaya dari berbagai kategori, mulai dari nasional, internasional, teknologi, pendidikan, gaya hidup, hingga topik khusus. Setiap artikel disusun berdasarkan sumber yang kredibel dan melalui proses penyuntingan sebelum dipublikasikan.

