Kepo Soal
light_mode
Kepo Trending
Beranda » Utama » Usaha & Wirausaha » Memulai Usaha Kuliner Saat Tidak Punya Pekerjaan dan Modal Besar, Ini Panduan Praktis yang Bisa Langsung Dicoba

Memulai Usaha Kuliner Saat Tidak Punya Pekerjaan dan Modal Besar, Ini Panduan Praktis yang Bisa Langsung Dicoba

  • calendar_month 6 jam yang lalu
  • visibility 19
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Mencari pekerjaan di tengah persaingan yang semakin ketat bukan perkara mudah. Di sisi lain, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam beberapa waktu terakhir membuat banyak orang harus mencari sumber penghasilan baru. Dalam kondisi seperti ini, usaha kuliner menjadi salah satu pilihan yang cukup realistis karena makanan merupakan kebutuhan sehari-hari dan permintaannya cenderung tetap ada.[1][2]

Bagi sebagian orang, kendala terbesar bukanlah kemampuan memasak, melainkan keterbatasan modal. Padahal, memulai usaha kuliner tidak selalu membutuhkan investasi puluhan juta rupiah. Dengan perencanaan yang tepat, seseorang dapat memulai dari skala kecil, mengembangkan usaha dari keuntungan yang diperoleh, dan menghindari utang pada tahap awal.

Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga terus mendorong pengembangan usaha mikro melalui berbagai program pemberdayaan, pelatihan, hingga pendampingan agar pelaku usaha dapat naik kelas secara bertahap.[1][3]

Ubah Pola Pikir, Jangan Menunggu Modal Besar

Kesalahan yang sering dilakukan calon pelaku usaha adalah menunggu modal besar sebelum memulai.

Padahal, banyak usaha kuliner berkembang justru karena dimulai dari dapur rumah dengan peralatan yang sudah dimiliki.

Fokus utama bukan pada besarnya modal, melainkan kemampuan menghasilkan penjualan pertama.

Target awal yang lebih realistis misalnya:

  • Mendapatkan 10 pelanggan pertama.
  • Menjual 20 porsi per hari.
  • Mengumpulkan keuntungan untuk membeli peralatan tambahan.

Dengan cara tersebut, perkembangan usaha menjadi lebih sehat karena dibiayai dari keuntungan usaha.

Pilih Produk yang Mudah Dijual

Pemula sebaiknya tidak langsung menjual terlalu banyak menu.

Semakin banyak menu, semakin besar pula modal bahan baku yang harus disiapkan.

Sebaliknya, pilih satu hingga tiga produk yang benar-benar dikuasai.

Contohnya:

  • Ayam geprek.
  • Rice bowl.
  • Pecak ayam.
  • Pecak ikan nila.
  • Mie pedas.
  • Seblak.
  • Es teh.
  • Lemon tea.
  • Kopi susu.
  • Dimsum.

Menu sederhana justru lebih mudah dikontrol kualitasnya.

Gunakan Peralatan yang Sudah Ada

Tidak semua usaha harus dimulai dengan membeli gerobak baru atau menyewa ruko.

Manfaatkan terlebih dahulu:

  • Kompor rumah.
  • Wajan yang sudah dimiliki.
  • Meja lipat.
  • Peralatan makan sederhana.
  • Handphone untuk menerima pesanan.

Bila penjualan mulai meningkat, keuntungan usaha dapat dialokasikan untuk membeli peralatan tambahan.

Tentukan Modal Awal yang Realistis

Banyak usaha kuliner rumahan dapat dimulai dengan modal di bawah Rp2 juta.

Sebagai ilustrasi:

  • Bahan baku awal.
  • Kemasan.
  • Gas.
  • Minyak goreng.
  • Bumbu.
  • Promosi sederhana melalui media sosial.

Hindari membeli perlengkapan yang belum benar-benar dibutuhkan.

Peralatan yang tidak menghasilkan penjualan sebaiknya ditunda pembeliannya hingga usaha berkembang.

Lakukan Riset Pasar Sederhana

Sebelum mulai berjualan, amati lingkungan sekitar.

Cari tahu:

  • Menu apa yang paling banyak dicari.
  • Harga yang umum di wilayah tersebut.
  • Jam ramai pembeli.
  • Siapa pesaing utama.

Riset sederhana ini membantu menentukan harga dan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

Hitung HPP Sebelum Menentukan Harga

Kesalahan paling sering dilakukan pelaku usaha baru adalah menentukan harga hanya mengikuti pesaing.

Padahal, harga jual harus dihitung berdasarkan biaya produksi atau Harga Pokok Penjualan (HPP).

Contoh sederhana:

Modal bahan satu porsi ayam:

  • Ayam Rp8.000
  • Bumbu Rp2.000
  • Kemasan Rp1.500
  • Gas dan minyak Rp1.500

Total HPP = Rp13.000

Apabila menginginkan laba sekitar 40 persen, maka harga jual dapat disesuaikan menjadi sekitar Rp18.000–Rp20.000, dengan tetap mempertimbangkan kondisi pasar setempat.

Menghitung HPP sejak awal membantu menjaga keuntungan usaha dan menghindari kerugian akibat salah menentukan harga.

  • Penulis: Redaksi Loekepo

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less