Sejarah Kemerdekaan Indonesia: Kronologi Perjuangan Bangsa, Proklamasi 17 Agustus 1945, hingga Tradisi Peringatan HUT RI
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 33
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi bergaya dokumenter sejarah yang menggambarkan suasana lahirnya Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Mempertahankan Kemerdekaan: Dari Lahirnya TKR hingga Pengakuan Kedaulatan
Proklamasi 17 Agustus 1945 menandai lahirnya Republik Indonesia secara politik. Namun, bagi bangsa Indonesia, kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan. Justru setelah Proklamasi dibacakan, tantangan yang lebih besar mulai muncul.
Pemerintah Republik Indonesia yang baru berdiri belum memiliki angkatan bersenjata nasional, aparat pemerintahan di daerah masih dalam tahap pembentukan, sementara tentara Jepang tetap berada di berbagai kota dengan persenjataan lengkap. Di sisi lain, pasukan Sekutu mulai bersiap memasuki Indonesia untuk melucuti tentara Jepang sesuai keputusan perang.
Di balik kedatangan Sekutu, terdapat kepentingan lain yang kemudian memicu konflik berkepanjangan. Pemerintah Belanda mengirim Netherlands Indies Civil Administration (NICA) dengan tujuan mengambil alih kembali pemerintahan di bekas wilayah Hindia Belanda. Kehadiran NICA menimbulkan penolakan luas karena rakyat Indonesia menganggap kemerdekaan telah diproklamasikan dan tidak dapat dibatalkan.
Situasi tersebut membuat Republik Indonesia harus menghadapi dua pekerjaan besar secara bersamaan: membangun negara dan mempertahankan kemerdekaannya melalui perjuangan diplomasi maupun perlawanan bersenjata.
(Sumber: Sejarah Nasional Indonesia VI; Arsip Nasional Republik Indonesia.)
Mengapa Indonesia Belum Memiliki Tentara Nasional?
Sesudah Proklamasi, banyak pemuda mengusulkan agar pemerintah segera membentuk angkatan perang.
Namun Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta mengambil sikap yang sangat hati-hati.
Mereka memahami bahwa tentara Jepang masih diwajibkan menjaga keamanan sampai Sekutu tiba. Apabila Indonesia langsung mengumumkan pembentukan tentara nasional, tindakan tersebut dapat dianggap sebagai provokasi dan memicu bentrokan berskala besar ketika posisi Republik masih sangat lemah.
Karena alasan itu, pemerintah pada awalnya memilih membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 22 Agustus 1945.
BKR bukanlah tentara nasional dalam arti formal. Organisasi ini lebih berfungsi sebagai badan penjaga keamanan yang membantu pemerintah menjaga ketertiban di berbagai daerah. Anggotanya berasal dari bekas prajurit PETA, Heiho, laskar rakyat, pemuda, dan masyarakat yang memiliki pengalaman militer.
Meskipun bersifat sementara, BKR menjadi wadah penting bagi para pejuang untuk mulai mengorganisasi kekuatan rakyat di berbagai wilayah.
(Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia.)
Dari BKR Menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR)
Perkembangan situasi politik berubah sangat cepat.
Di berbagai kota mulai terjadi bentrokan antara rakyat Indonesia dengan tentara Jepang maupun pasukan Sekutu yang datang bersama NICA. Pemerintah menyadari bahwa badan keamanan saja tidak lagi cukup untuk menghadapi ancaman yang semakin besar.
Pada 5 Oktober 1945, pemerintah mengeluarkan maklumat yang menetapkan pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Tanggal tersebut kini diperingati sebagai Hari Tentara Nasional Indonesia (TNI), meskipun nama organisasi militer Indonesia beberapa kali mengalami perubahan sebelum akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia.
Pembentukan TKR menjadi langkah penting karena untuk pertama kalinya Republik Indonesia memiliki organisasi militer nasional yang berada di bawah kendali pemerintah.
Markas-markas TKR kemudian dibentuk di berbagai daerah. Bekas anggota PETA, Heiho, KNIL yang bergabung dengan Republik, serta laskar-laskar perjuangan mulai disatukan dalam struktur yang lebih terorganisasi.
(Sumber: Tentara Nasional Indonesia; Arsip Nasional Republik Indonesia.)
Jenderal Soedirman dan Lahirnya Kepemimpinan Militer Republik
Salah satu keputusan penting setelah pembentukan TKR adalah memilih panglima.
Pada 12 November 1945, para komandan divisi mengadakan konferensi di Yogyakarta.
Dalam pertemuan tersebut, mereka memilih Soedirman sebagai Panglima Besar TKR.
Saat terpilih, Soedirman baru berusia 31 tahun.
Sebelumnya ia merupakan guru di Muhammadiyah dan kemudian menjadi komandan batalyon PETA di Kroya selama masa pendudukan Jepang.
Walaupun masih muda, Soedirman dikenal memiliki kemampuan kepemimpinan yang kuat serta dihormati oleh para prajurit.
Di bawah kepemimpinannya, TKR berkembang menjadi kekuatan utama Republik dalam menghadapi berbagai operasi militer Belanda pada tahun-tahun berikutnya.
(Sumber: Jenderal Soedirman: Panglima Besar TNI.)
Kedatangan Sekutu dan NICA
Sementara Republik Indonesia membangun pemerintahan, pasukan Sekutu mulai mendarat di berbagai kota.
Di Jakarta, Surabaya, Semarang, Medan, dan kota-kota penting lainnya, pasukan yang dipimpin South East Asia Command (SEAC) datang dengan tugas resmi:
- menerima penyerahan tentara Jepang,
- membebaskan tawanan perang,
- menjaga ketertiban sampai pemerintahan sipil dibentuk.
Namun, bersama pasukan Sekutu ikut pula pejabat dan aparat NICA yang ingin memulihkan kekuasaan Belanda di Indonesia.
Kehadiran NICA segera menimbulkan ketegangan.
Di berbagai daerah, rakyat menolak pengibaran kembali bendera Belanda, mengambil alih kantor pemerintahan, dan mempertahankan fasilitas strategis yang telah dikuasai Republik.
Ketegangan tersebut perlahan berkembang menjadi bentrokan bersenjata yang terjadi hampir di seluruh Indonesia.
Pertempuran-Pertempuran Pertama
Sepanjang September hingga Oktober 1945, berbagai perlawanan rakyat bermunculan.
Di Jakarta, Bandung, Semarang, Medan, Aceh, Bali, dan banyak kota lainnya, pemuda bersama laskar rakyat berusaha mempertahankan hasil Proklamasi.
Salah satu insiden yang paling terkenal terjadi di Surabaya pada 19 September 1945.
Sekelompok orang Belanda mengibarkan bendera merah-putih-biru di atap Hotel Yamato.
Tindakan tersebut dianggap sebagai simbol kembalinya pemerintahan kolonial.
Rakyat Surabaya segera mengepung hotel tersebut.
Melalui negosiasi yang kemudian berubah menjadi ketegangan, bagian biru pada bendera Belanda akhirnya disobek sehingga tersisa warna merah dan putih.
Peristiwa itu menjadi simbol penolakan rakyat terhadap upaya Belanda menguasai kembali Indonesia.
Insiden di Hotel Yamato juga menjadi awal meningkatnya ketegangan yang beberapa minggu kemudian berkembang menjadi Pertempuran Surabaya, salah satu pertempuran terbesar dalam sejarah Revolusi Kemerdekaan Indonesia.
(Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia; Sejarah Nasional Indonesia VI.)
Revolusi Baru Saja Dimulai
Pada akhir tahun 1945, Republik Indonesia baru berusia beberapa bulan.
Negara telah memiliki konstitusi, pemerintahan, presiden, wakil presiden, kementerian, serta tentara nasional.
Namun pengakuan internasional masih sangat terbatas.
Belanda belum mengakui kemerdekaan Indonesia dan berupaya mengembalikan kekuasaannya.
Keadaan tersebut membawa bangsa Indonesia memasuki periode yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Fisik (1945–1949), yaitu masa ketika diplomasi dan perjuangan bersenjata berjalan berdampingan untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan.
- Arsip Nasional Republik Indonesia
- Tentara Nasional Indonesia
- Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
- Sejarah Nasional Indonesia VI
- Jenderal Soedirman: Panglima Besar TNI
- Penulis: Redaksi Loekepo





